Home » Artikel » TERSANDRA

TERSANDRA

13 January 2017

Kita seringkali menghadapi dinamika kehidupan ini tersandra oleh masalah yang ada dalam diri kita maupun diluar diri kita. Dalam diri kita misalnya ketika berbuat tidak jujur alias berbohong maka ini menjadikan diri kita tersandra untuk menyuruh orang berbuat jujur, atau dengan pengertian lain, karena kita pernah berbohong jadi sulit kita mencegah kebohongan orang lain. Sedang dari luar diri kita adalah : karena kita pernah berbuat salah pada publik dan sudah terbentuk opini publik yang negatif pada kita, maka sepertinya sedang merasakan hopless (hilangnya harapan) untuk berbuat sesuatu. Padahal kalau dipikir secara obyektif, siapa toh orang didunia ini yang tidak pernah bersalah? Tentu semua pasti pernah bersalah, hanya apakah kesalahan tersebut harus menyandra kita untuk melakukan kebaikan? Seharusnya tidak demikian. Tetapi defacto menunjukan demikian adanya. Oleh karenanya melepaskan semua sandra yang menghalangi kita untuk berbuat baik menjadi sangat penting dan menjadi satu keniscayaan (kewajiaban).

Memang diakui perasaan awalnya seperti sangat berat, tetapi kalau bisa dimulai apalagi secra istiqamah (berkelanjutan) itulah yang baik. Artinya dengan cara tersebut kita dapat melepaskan diri dari sandra-sandra tersebut. Sebab kalau kita tidak mulai maka sesungguhnya sedang menyandra diri kita tahap yang parah dan serius. Mempertahankan label sebagai pribadi yang bersalah secara permanen itu merupakan satu kesalahan. Disebut demikian karena telah melumpuhkan potensi-potensi kebaikan pada diri kita. Seharusnya kita masih mempunyai peluang berbuat baik, tetapi potensi yang terlumpuhkan itu melemahkan semangat bebrbuat baik. Apabila hal tersebut terus terjadi, maka bukan mustahil akan timbul sifat putus asa inilah menambah parahnya kehidupan kita, yaitu hilangnya harapan hidup dan harapan menjadi orang baik. Disaat itulah dunia mau kiamat dan hanya menunggu waktu.

Tugas kita kedepan adalah bagaimana melepaskan sandra pada diri agar tidak tersandra. Caranya sederhana sekali yaitu : Pertama : Bebaskan diri kita dari belenggu perbudakan sandra tersebut dan tumbuh niat untuk bangkit menjadi orang baik. Kedua : Bahwa semua orang pernah bersalah pada zamannya dan mereka terus bangkit melakukan terobosan bahkan berlomba-lomba dalam berbuat baik. Ketiga : Kita harus berprinsip bahwa-bahwa kitalah menjadi tuan untuk mengatur segala sesuatu yang ada. Jangan mau di perbudak apalagi di belenggu oleh kenangan pahit yang pernah kita lakukan, karena soal dosa atau salah itu bisa diampuni sepanjang bertobat dan minta maaf. Keempat : Lakukan kebaikan secara Istiqamah walaupun itu sekecil apapun, syukur kalau bisa meningkat lebih sempurna . Kelima : Pandanglah semua kejadian dari sudut pandang yang positif sembari mengambil hikmah dan pelajarannya.

Dengan demikian maka kita sudah melepaskan diri dari sandra-sandra tersebut. Maka kebebasan terukur harus terus dikembangkan untuk meraih kebaikan masa depan yang lebih baik. Perhatikan Sabda Rasul : “Wakhairul Khathaa’in attawabun”. (sebaik-baiknya orang bersalah adalah memohon ampun (bertaubat).

Artikel

No Comments to “TERSANDRA”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*