Home » Artikel » MENATA NIAT

MENATA NIAT

24 January 2017

Dunia semakin amburadul, bumi semakin menjadi tempat gonjang ganjing. Orang baik benar bisa menjadi buruk dan salah. Sementara itu orang busuk dan salah bukan mustahil bisa jadi “baik dan benar”dimata orang yang mempunyai relasi kepentingan. Kita pasti mengelus dada dan menghela nafas panjang melihat keadaan ini. Tetapi mengelus dada dan menghela nafas panjang saja tidak cukup, melainkan terus dan menata kembali niat untuk apa kita berbuat baik dan menjadi orang baik. Ini menjadi sangat penting karena boleh jadi kita stres dan putus asa menonton perilaku manusia yang ada dalam masyarakat.

Menata niat yang saya maksudkan, adalah menetapkan keyakinan bahwa kita berbuat baik dan menjadi orang baik hanaya karena Allah semata tidak untuk riya dan di puji orang. Sehingga walau dunia semakin amburadul pun semangat berbuat baik dan menjadi orang baik tetap menjadi tekad dan prilaku kita yang tidak pernah pudar. Mengapa demikian? Yah… inilah satu-satunya tanaman kemuliaan kita yang harus terlaksana secara istiqamah (berkelanjutan) dan hanya karena inilah investasi spiritual kita yang teramat mahal disisi Yang Maha Kuasa.

Dalam perjalanan hidup kita, sering terjadi pasang surut orang berbuat baik dan menjadi orang baik. Salah satu faktor pemicunya adalah keadaan yang tidak mendukung, alias kemungkaran terus merajalela, sementara kebaikan juga semakin langka. Bukan mustahil keadaan seperti ini ikut mempengaruhi kita , setidak-tidaknya mulai mengeluh, bahkan menyesali nasib mengapa kita berbuat baik dan menjadi orang baik. Padahal keluhan seperti itu tidak harus terjadi karena membawa dampak melemahkannya semangat untuk berbuat baik dan menjadi orang baik. Akhirnya acuh dan pada gilirannya ikut seperti lingkungan yang penuh amburadul tersebut. Jadi berbuat baik dan menjadi orang baik tidak perlu melihat keadaan papaun. Yang terpenting apapun yang terjadi kita tetap komitmen dan militan dengan kebaikan. Karena kita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi orang mulia karena kebaikan. Disinilah penting menata niat untuk kembali menoreh sejarah kehidupan kita dengan lembaran baru yang berisi kebaikan. Agar kita bisa melakukan itu, maka prinsip mencintai kebaikan dan melaksanakannya tidak boleh sekedar teori saja, tetapi harus tampak dalam aksi nyata (amal sholih). Keadaan seperti inilah dapat menolong kita dari berbagai hal yang hendak merusak kepribadian kita. Begitulah, bahkan itulah seharusnya kita lakukan untuk meraih kemuliaan baik secara kauantitas maupun kualitas dalam kehidupan ini.

Menata hati pada hakekatnya mengatur dan mengendalikan hati untuk apa hidup kita, dan untuk apa kita berbuat baik. Maka jawabnya adalah hati dan perasaankita harus menyadari bahwa hidup kita untuk ibadah, dan berbuat baik hanyalah untuk menggapai Ridha Allah semata. Sehingga dalam kondisi apapun kita harus dan terus bersemangat menanam kebaikan terhadap sesama. Artinya dinamika kehidupan tidak boleh mendapat ruang bebas untuk meredupakan kita dari semangat beramal shalih.

Amal sholeh dan perbuatan baik harus dan terus terlaksana selagi hayat masih di kandung badan. Karena hanya itulah satu-satunya bekal kehidupan sesudah kematian. Perhatikan firman Allah : ”adapun orang-orang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran : 57). Semoga setelah kita menata hati maka selanjutnya adalah kita harus bisa terus menerus melakukan kebaikan (amal shalih). Karena hanya itulah satu-satunya bekal untuk menjadi orang-orang beruntung, terutama di-mata Allah SWT.

Artikel

No Comments to “MENATA NIAT”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*