Home » Artikel » ISU

ISU

13 January 2017

Kata isu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai beberapa arti. Diantaranya adalah kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya, kabar angin, desas-desus. Ada juga yang berarti masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya).

Dalam kejadian sehari-hari, kita memahami tentang isu sebagaimana dalam pengertian tersebut. Lemparan sebuah ide pada publik untuk mendapatkan respon balik adalah isu dalam pengertian diatas. Artinya seseorang akan mengambil keputusan (Khususnya Elit Pemimpin) setelah membaca, mendengar dan melihat bagaimana pelaku publik meresponnya. Isu ini sering dipakai seseorang untuk bergainin power (posisi tawar) untuk kepentingannya dan kelompoknya. Misalnya seseorang ingin mendapatkan posisi jabatan tertentu lalu dia melempar pernyataan bahwa saya mempunyai jutaan anggota pendukung untuk siap mendukung anda, kalau anda memberikan posisi jabatan untuk kami. Isu tersebut lebih dikenal sebagai strategi Politik untuk meraih kekuasaan dan hampir semua orang yang gila jabatan menggunakan strategi ini. Isu seperti ini dalam dunia politik telah menjadi tradisi yang lumrah alias dipandang tidak mengapa. Tapi didalam pandangan agama ada masalah yang perlu diselesaikan yaitu : menyandra orang untuk memperoleh kekuasaan / jabatan, atau dengan bahasa lain ada paksaan, dan itu tidak diperbolehkan. Contoh lain misalnya : Jokowi dalam kampanye capresnya selalu mengatakan bahwa jika dia terpilih maka tidak akanmembagi-bagi kue kekuasaan pada siapa pun kecuali kepada mereka yang memiliki kompetensi dalam bidangnya. Pernyataan ini tidak salah, karena menyerahkan urusan pada orang yang memang ahlinya. Dalam kenyataannya setelah terpilih, Jokowi sepertinya tidak berdaya untuk menepati janji kampanyenya. Akhirnya dia harus sengaja tidak menepati janjinya dan membagi kue-kue kekuasaan pada mereka yang menggunakan isu untuk mendapatkan posisi tawar itu. Akibatnya dalam perjalanan kepemimpinannya dia harus mengganti dan mengganti pembantu dalam kabinetnya ini adalah fakta : believe or not is the fact. Padahal kata Rasul : Apabila satu urusan diserahkan pada orang-orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya. Jadi politik saling menyandra dengan membuat isu seperti itu pasti membuat kita menjadi munafik karena melanggar janji, baca hadist Rasul “Tanda-tanda orang yang munafik itu ada Tiga : Apabila berkata berdusta, jika berjanji mengingkari, apabila dipercaya mengkhianati (al-hadist).

Terhadap isu yang bermakna sebagai kabar yang tidak jelas asal usulnya… kabar angin dan desas-desus itu kita harus cermat meresponnya. Karena boleh jadi satu kenyataan yang tersimpan rapi, tapi bisa terbongkar dengan kemasan sebagai isu. Contoh isu tentang kembali bahaya laten komunis, tenaga kerja ilegal dari china dan sebagainya. Apabila dilihat kenyataan dalam masyarakat, memang itu sudah terjadi atau de factonya demikian. Lain halnya isu dalam arti kabar angin, desas desus boleh jadi hanya sekedar hoax atau fitnah. Agar kita tidak terjebak menjadi tukang fitnah, maka sikap memeriksa/meneliti kebenaran berita tersebut atau tabayyun menjadi satu keniscayaan (kewajiban). Perhatikan firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang padamu orang fasik membawa satu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kepadanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan-perbuatanmu itu (QS : Al-Hujarat ; 6). Jadi terhadap semua isu dalam makna tersebut diatas, kita tidak boleh acuh, tetapi tabayyun itu menjadi ukuran untuk menentukan benar tidaknya satu pemberitaan yang dikemas dengan terminologi “isu”, biar kita tidak ikut menjadi tukang fitnah baru sesudah fitnah sebelumnya.

Artikel , , , , , , ,

No Comments to “ISU”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*