Home » Uncategorized » REVOLUSI MENTAL ?

REVOLUSI MENTAL ?

Term Revolusi mental terkenal menggema ketika Jokowi menjadi Presiden RI ke-7. Banyak orang sedang menunggu seperti apa aplikasinya untuk Negara kita. Sekarang Revolusi Mental seperti lemes karena kurang darah, bahkan nyaris mati. Semua orang tahu bahwa yang namanya Revolusi mental itu penjungkir balikkan satu keadaan pada keadaan yang lain dalam waktu sekejap. Jadi Revolusi mental itu artinya upaya merubah mental dalam waktu sekejap dengan  menggunakan instrument yang mendukungnya.Tetapi kenyataan malah terbalik, Kasus-kasus yang melibatkan pejabat publik, seperti korupsi, narkoba, jadi tukang pukul, skandal sex, suap menyuap malah marak. Revolusi mental nyaris menjadi satu pencitraan saja ketimbang aksi nyata. Pak Jokowi yang mencetuskan istilah ini pun nyaris tidak berdaya melawan para preman / kejahatan berdasi di Negeri ini. Buktinya menghukum mati para bandar narkoba jilid dua sampai hari ini masih terkatung-katung. Dalihnya juga sederhana, kita fokus pada ekonomi, begitulah statement Kejagung RI. Padahal yang merusak ekonomi kita juga para bandar narkoba itu, termasuk preman berdasi lainnya.

Sungguh miris kita sebagai anak bangsa melihat keadaan negeri sendiri. Sampai-sampai ada yang berseloroh : kalau dulu kita menghadapi penjahat dari bangsa penjajah, tetapi sekarang merasakan penjajahan baru dari para penjahat bengsa sendiri. Aneh tetapi nyata menjadi ironi untuk anak negeri ini.

Lalu bagaimana dengan revolusi mental yang digagas oleh petinggi Negara itu ? Kita sebagai anak negeri ini memang berharap supaya revolusi mental harus dan benar-benar terjadi untuk menyelamatkan negeri ini. Tetapi itu boleh jadi seperti kata iklan maybe yes or maybe no tergantung pada pemangku jabatan. Saya tidak pernah membayangkan bahwa Negeri Pancasila ini ternyata lebih runyam dalam soal mentalitas. New Zeland (Selandia baru) yang tidak punya Pancasila dan tidak punya Departemen Agama saja termasuk Negara paling bersih korupsi dan peringkat nomor satu bebas korupsi. Saya merenung serius apa yang salah di negeri ini sehingga lebih bagus Selandia Baru dari pada Negeri sendiri. Jawaban sederhananya adalah kita anak negeri ini sedang tidak menjadi contoh yang baik pada bangsanya sendiri. Perintah berbuat baik, mencegah pada yang buruk itu pada umumnya baru sebatas pepesan kosong. Padahal kalau itu di lakukan luar biasa negeri kita ini. Artinya kalau itu terlaksana maka adil, makmur sejahtera lahir dan batin akan terwujud, dan bukan mustahil kita bisa mengganti posisi Slandia baru. Jadi benar kata bang haji Rhoma Irama dalam lirik lagunya yang berjudul : “kegagalan cinta” pada reffnya :”Kau yang mulai kau yang mengakhiri, kau yang berjanji kau yang mengingkari, kalau tahu begini akhirnya tak mau dulu ku bermain cinta. Cukup sekali aku merasakan kegagalan cinta takkan terulang kedua kali di dalam hidupku…ho…ho…ya nasib mengapa begini. Baru pertama bercinta sudah menderita. Syair lagu ini dalam perspektif politik bernegara patut direnungkan dan diamalkan, supaya dinegeri ini ada kedamaian / kesejahteraan.

Karena Pak Jokowi sebagai pencetusnya maka beliau perlu membaca peringatan Allah didalam Al-Qur’an : ” Telah Nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali kejalan yang benar ” (QS. Al-Ruum : 41). Surat Al-Ruum ini artinya bangsa Romawi, maka Pak Jokowi sebagai Presiden RI, bangsa ini perlu diselamatkan dari berbagai kejahatan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan / perbuatan orang dalam bangsa sendiri. Dan saya yakin kalau saja Pak Jokowi bisa melaksanakan Revolusi mental ini dengan serius, maka gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto rahardjo bisa terwujud. Semoga !

Uncategorized , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No Comments to “REVOLUSI MENTAL ?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*