Home » Uncategorized » REFORMASI MERANA !

REFORMASI MERANA !

Reformasi dalam makna generiknya adalah menata atau membentuk kembali. Artinya sesuatu yang dipandang buruk harus ditata ulang sehingga menjadi baik / lebih baik. Makna reformasi seperti ini sama dengan modern atau pembaharuan. Dalam bahasa agama, reformasi, modern atau pembaharuan adalah : Al-Muhafazatu a’laqadimisshalih wal akhzu bi jadi dil aslaha (memelihara lama yang baik, dan mengambil baru yang lebih baik).

Berbeda reformasi yang berlaku di negara kita, bukannya menjaga lama yang baik dan mengambil baru yang lebih baik, tetapi membuang lama yang baik dan mengambil baru yang lebih jelak. Contoh sederhana : kalau dahulu memilih Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presiden cukup anggota Dewan Perwakilan Rakyat saja. Tetapi semenjak amandemen UUD 1945 yang ke-4 (empat) Bupati, Walikota, Gubernur, dan Presidendipilih langsung oleh rakyat. Akibatnya politik sesudah reformasi harus berbiaya tinggi (high cost) dan resiko tinggi (high risk). Orang pinter dan memiliki keahlian dizaman reformasi ini tidak boleh atau dilarang menjadi pejabat. Pasalnya sederhana saja, karena tidak mempunyai uang. Sementara Preman, Koruptor, dan Makelar bisa jadi pejabat karena mempunyai uang. Contoh yang lain sangat menyedihkan kita adalah dihapusnya GBHN dalam UUD 1945, sehingga Negara kita sekarang tidak punya haluan Negara. Terserah yang memimpin Negara, mau dibawa kemana. Belum lagi PELITA, pembangunan lima tahun juga tidak jelas juntrungnya. Akhirnya hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara tergantung  yaitu tergantung pada pemimpin pemimpin karbitan alias tidak mempunyai kompetensi dan sangat tergantung pada pembisik-pembisik yang mempunyai kepentingan. Dan juga tertanggung yaitu membebani sejumlah hutang pad masyarakat kendatipun rakyat tidak menikmati “hasil pembangunan”, kecuali kelompok tertentu saja.

Merana sekali nasib reformasi di negeri ini, dan ironis sekali menjadi beban penderitaan rakyat yang dikemas dengan atas nama rakyat. Memang reformasi sudah kebablasan alias melampaui batas ke-Tuhanan dan kemanusiaan. Sementara itu Negara sepertinya nyaris tidak hadir dalam kehidupan masyarakat kecuali ada kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat ego sektoral dan parsial. Disisi lain reformasi yang merana nasibnya ini telah meniscayakan kita meneyerahkan pimpinan-pimpinan yang bodoh, alias tidak memiliki kemampuan dan keahlian. Akibatnya yang ditunggu oleh rakyat adalah kebaikan, kemakmuran tetapi yang datang kemudian adalah kehancuran / kebinasaan. Betul sekali kat Rasul SAW “ apabila suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Nah saat ini kita sedang merasakan kehancuran, lihat saja barang maksiat dan keburukan sudah mulai marak secar kuantitas maupun kualitas. Atau dengan pengertian lain : Allah SWT sedang mencicil kehancuran untuk kita karena sudah dengan sengaja mengabaikan ajaran agama dalam hidup bermasyarakat. Apakah ini terus kita biarkan atau sadar untuk kembali kejalan yang benar? Suka atau tidak sudah menjadi hukum sebab akibat : bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, demikian pula sebaliknya.

Maka jangan membiarkan reformasi terus merana, bakal akan menjadi malapetaka masal. Reformasi harus dikembalikan pada makna yang benar yaitu memperbaiki yang salah menjadi benar  dan baik lebih baik. Tanpa itu maka kehancuran yang lebih dahsyat akan datang menimpa kita. Dan jika itu yang terjadi, maka ketahuilah kita sedang merasakan qiyamat yang pembayarannya dicicil oleh Allah SWT.

Uncategorized , , , , , ,

No Comments to “REFORMASI MERANA !”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*