Home » Uncategorized » HURU – HARA POLITIK

HURU – HARA POLITIK

Politik dalam makna generiknya adalah upaya mendapatkan kekuasaan dan menjadikannya sebagai alat mensejahterakan rakyat. Makna ini mengisyaratkan bahwa politik itu mulia karena memberikan kesejahteraan pada ummat. Namun, dalam perjalannya, politik tidak selalu menjadikan barang mulia, tetapi menakutkan, bahkan sangat menjijikan. Disebut demikian karena politik telah menjadi upaya pemenuhan kebutuhan pribadi atau kelompoknya. Dengan jalan mencari diatas penderitaan rakyat. Akibatnya yang tidak terhindarkan adalah terjadi huru-hara (malapetaka) dalam peristiwa-peristiwa politik. Dalam prespektif seperti ini politik telah menjadi alat pendorong politisi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kawan bisa menjadi lawan demikian pula sebaliknya, saling menjegal, menzalimi, bahkan juga membunuh. Disinilah huru-hara politik terjadi dan masing-masing pihak ingin membalas dendam politik pada pihak lain. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah : mengapa demikian ironisnya terjadi ? jawaban sederhananya adalah karena hati nurani telah tercabut dan yang menggantikannya adalah “syahwat”. Karena syahwat, maka segala nilai etika, agama maupun kultur semuanya sengaja terabaikan demi kepuasan syahwat politik sesaat. Maka, tidak bisa dihindari bahwa syahwat politik melahirkan dan membesarkan preman politik. Ditangan preman-preman politik seperti inilah menjadi sumber huru-hara politik yang memang sengaja dipelihara untuk kepentingan itu.

Saya meyakini walaupun tidak semua politisi menjadi preman-preman politik, tetapi kebanyakan diantara mereka yang terlibat sebagai preman-preman politik. Apalagi politik sesudah era reformasi ini telah berubah makna menjadi who get what and when, baca siapa dapat apa, dan kapan. Makna seperti inilah membuat orang sepertinya singa buas sedang memangsa manusia. Maka sudah pasti yang terjadi sesudah itu adalah huru-hara politik untuk satu kepentingan syahwat sesaat.

Sejatinya politik adalah persoalan keTuhanan dan kemanusiaan. KeTuhanan karena yang Maha Kuasa memerintahkan kita menggunakan kekuasaan untuk kebaikan. Kemanusiaan karena hampir semua persoalan kemanusiaan bisa terurai untuk kemudian memperoleh keadilan kemakmuran dan bebas dari penjajahan karena perjuangan politik. Tetapi kenyataanya seperti kata pepatah : “Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai”. Sebenarnya pepatah ini sudah kadaluarsa alias sudah bukan zamannya lagi karena mengajarkan orang pasrah tanpa usaha. Tetapi pesan moralnya masih bagus untuk diperhatikan, yaitu betapa mulia satu cita-cita untuk kebaikan, sayangnya tidak diikuti oleh usaha yang serius. Maka sekarang pepatah itu bisa kita ganti : “Maksud hati memeluk gunung sambung tangan supaya sampai”! Persoalannya tangan siapa yang mau disambung dan mau bersambung ? Jadi, sebetulnnya dalam politik ada konsep ta’awun (saling tolong menolong) untuk kebaikan. Dengan demikian maka huru-hara politik akan secara otomatis berkurang kendatipun menghilangkan sama sekali itu tidak mungkin. Karena huru-hara politik itu juga sengaja diawetkan, atau dipelihara untuk mencari dukungan politik. Yang jelas huru-hara politik itu berbayar, tidak gratis bahkan mahal harganya (high cost) . oleh karenanya banyak orang berpendapat yang menyebabkan huru-hara politik itu bukan karena beda pendapat, tetapi lebih disebabkan karena beda pendapatan. Dalam keadaan seperti ini marilah kita membaca firman Allah : “Allah pelindung orang-orang yang beriman dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) dan orang –orang kafir yang kafir, pelindung-pelindungnya, ialah syetan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepadakegelapan (kekafiran) . mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya (QS : Al-Baqrah : 257). Mari kita fahami benar-benar pesan moral dari petunjuk tersebut untuk kemudian menjadi proteksi untuk diri kita agar terhindar dari huru-hara tersebut. Semoga !

Uncategorized , , ,

No Comments to “HURU – HARA POLITIK”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*