Home » Artikel » TAUSHIYAH

TAUSHIYAH

15 February 2016

Satu kata “Taushiyah” ini nampaknya sederhana tetapi sarat dengan makna filsafat. Artinya didalam kata itu terkandung multi makna dan multi makna. Satu diantaranya kata itu menyelamatkan orang beriman dari kerugian, Baca Qur’an suratsurat Al-Ashri 1-3 “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” Di dalam  ayat ini ada kata nasehat yang dalam komunikasi kita sehari-hari dikenal dengan taushiyah. Betapa bisa kita bayangkan kedalaman makna kata itu dapat memebebaskan manusia dari kerugian. Artinya bahwa kata itu (taushiyah) dalam garis vertical menerima nasihat dari Allah SWT berupa petunjuk dan ajaranNya. Tetapi juga pada garis horizontal bagaimana mengaplikasikan / mengimplementasikan kata itu dalam tataran fraksis. Dengan demikian formula kata ini sesungguhnya berdimensi ganda, yaitu menyatukan teori dan praktik dalam bahasa agama lazim dikenal dengan amal Shalih. Maka keimanan pada teori keyakinan (aspek theologis) harus dipadukan dengan amal shalih (aspek praksis) dan satu diantaranya mengimplementasikan taushiyah pada sesama. Manfaatnya adalah melepaskan manusia dari kerugian baik pada skala makro maupun mikro. Manfaat tersebut sesungguhnya menyangkut aspek kebutuhan mendasar dari semua manusia, yaitu ingin menjadi orang beruntung dan dengan membebaskan diri dari kerugian. Maka taushiyah atau nasehat-menasehati untuk mentaati kebenaran dan kesabaran itulah kalimat kuncinya.

Taushiyah dalam local wisdom atau kearifan lokal seperti“gaha gapen”dalam bahasa daerah (Lohayong Solor), Wejangan dalam Bahasa Jawa dan lain sebagainya adalah alat pembebasan. Yaitu membebaskan manusia dari kerugian menuju keberuntungan. Hanya saja dialek kita dari Taushiyah itu perlu diatur supaya memenuhi sarat etika pergaulan. Contoh yang paling sederhana adalah menasehati orang supaya menjadi baik, maka etika Taushiyah tidak boleh menghina, apalagi memaki-maki. Semua manusia akan lebih respek dengan Taushiyah tanpa menghina dan mencaci. Sebaliknya dapat membuat kerugian besar pada orang yang melakukan Taushiyah dengan cara-cara yang tidak benar itu pasti akan mengundang kerugian baru berupa dendam dan permusuhan. Jadi memahami Taushiyah sebagai upaya pembebasan adalah menyampaikan Taushiyah dengan penuh rasa empati, simpati dan kesadaran menghargai orang lain. Maka tutur bahasa yang lahir kemudian adalah bahasa perasaan bukan bahasa syahwat. Kita sering tersinggung membaca komentar-komentar yang berisi Taushiyah dalam media sosial karena tidak memakai etika. Menghina orang seenaknya, menhakimi orang semaunya dengan kata-kata yang tidak sopan walaupun didalamnya ada Taushiyah (nasehat). Maka gaha gapen (taushiyah) dalam local wisdom tersebut harus dibingkai sikap saling menghargai.

Taushiyah harus kita lakukan bahkan wajib kita sampaikan tetapi etika Taushiyah juga menjadi lebih wajib untuk diperhatikan kita semua. Jangan sampai terjadi apa yang disebut orang ingin beruntung malah buntung. Kita ingin menyampaikan Taushiyah untuk orang mentaati kebenaran dan kesabaran tetapi juga harus menggunakan kata-kata yang benar. Semoga !

Artikel ,

No Comments to “TAUSHIYAH”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*