Home » Uncategorized » KOMENTATOR

KOMENTATOR

16 February 2016

Komentator artinya orang yang memberikan komentar. Adapun isi komentarnya sangat tergantung pada perspektif dan dalam kondisi apa yang sedang terjadi pada diri komentator itu. Akibatnya seringkali kita menjumpai komentar-komentar yang sesuai, tetapi dalam banyak hal sangat berlebihan. Taruh contoh komentarnya penonton sepak bola. Sebetulnya suara yang lantang dalam komentar itu menunjukkan dia sedang menikmati pertunjukkan tersebut. Tetapi karena dia juga ikut bertaruhan (judi sepak bola) maka mulai bahasa pelecehan sampai pada caci maki juga dilakukan. Tanpa malu dengan orang sekitarnya bahwa dia sedang melecehkan dan mencaci-maki dirinya sendiri. Dengan bangga dan sedikit sadis dia mendramatisir situasi menjadi tegang bahkan juga menimbulkan perkelahian.

Itu adalah satu contoh yang paling sederhana dan bersifat sangat mikro diantara masalah yang paling kompleks dan universal. Artinya kita sering kali melihat dan memberikan komentar masalah-masalah kompleks dan universal itu seperti komentar kita sebagai penonton sepak bola yang sangat mikro itu. Akibat lanjutan yang terjadi adalah bukannya menambah persahabatan / persaudaraan, malah memperbanyak lawan dan permusuhan .

Ada adagium yang menyatakan “seperti memancing ikan dalam kolam, tanpa mengeruhkan airnya tapi mendapat ikannya”. Adagium ini kalau di nalar sehat kita nampaknya tidak bisa diterima. Tetapi mari kita lihat dzauq (rasa bahasanya) itu sebanarnya menggambarkan sikap kehati-hatian kita untuk berbicara (komentar) dan berbuat karena boleh jadi kaibat lanjutannya akan kembali pada kita juga sebagaimana peribahasa  “mulutmu harimaumu”.

Memag menjadi komentator yang baik itu tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tapi bukan menjadi alasan laten untuk membela diri. Adalah sangat baik kita menyadari itu sebagai satu kesalahan dan meminta ma’af untuk selanjutnya membiasakan diri dengan komentar-komentar yang sehat / baik. Karena kalau tidak kita lakukan itu, sepertinya kita sedang mempertinggi tempat jatuh dan akibatnya sangat fatal. Jujur saya katakan bahwa kita ini sedang berada dalam alam demokrasi yang kebablasan alias kelewat batas. Budaya demokrasi kebablasan ini tidak bisa di awetkan terus karena karena akan mengundang permusuhan dan anarkis. Dan membiasakan yang baik itu harus menjadi kewajiban kita semua agar menjanjikan ketentraman dan kenyamanan kita semuanya.

Kita nyaris tidak bisa membedakan bahasa politik dan bahasa dakwah, karena di dalam bahasa politik itu ada misi dakwahnya, demikian pula sebaliknya. Oleh karena dzauq (rasa) berbahasa menjadi sangat penting untuk menyadarkan kita semua agar hidup kita hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Makna hidup seperti inilah yang harus kita implementasikan dan pergaulan terhadap sesama. Insya Allah semua orang akan simpatik dengan kita dan kita pun empati pada  mereka. Oleh karenanya pepatah jawa mengatakan : Urip iku kudu iso rumongso, ojo rumongso iso”. Itu semuanya menunjukkan bahwa diantara kita semuanya masih banyak orang mencintai kita, dan mereka pun tidak mau melihat kita sedang mempertinggi tempat jatuh. Semoga bersama kita bisa lebih cepat lebih baik, kalau bukan kita siapa lagi, dan kalau tidak sekarang kapan lagi, akhirnya menjadi orang hebat (meminjam istilah Pak Sby, Pak Prabowo, Pak JK dan Pak Jokowi).

Uncategorized

No Comments to “KOMENTATOR”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*