Home » Uncategorized » KAIN KAFAN TAK BERSAKU

KAIN KAFAN TAK BERSAKU

24 February 2016

Kono ada kisah di zaman Umar bin Abdul Azis, ada seorang kaya yang membuat surat wasiat pada keluarganya. Isi surat wasiat tersebut, bila dia mati maka keluarganya diminta membuat kain kafannya yang bersaku ukuran besar menutup seluruh tubuhnya kecuali mata dan telinga. Permintaannya seluruh kekayaan berupa dinar dan dirham serta mas itu turut serta dalam saku kain kafan tersebut. Pada saat dia meninggal timbulah kepanikan yang luar biasa pada keluarga sebagai ahli warisnya. Maka mereka mendatangi Umar Abdul Azis untuk menanyakan hal tersebut. Umar Abdul Azis yang juga disebut khalifah ke 5 sesudah khulafa’urrasyiddun yang sederhana itu menjawab. Aku tidak pernah mendengar dari guruku sebelumnya, atau membaca dan menemukan satu ayat atau hadist pun yang menyuruh membuat kain kafan yang bersaku. Lantas kepada keluarga sang mayit dinasehati : jangan mentaati surat wasiat yang bertentangan ajaran agama. Maksud kain kafan tak bersaku itu karena seseorang yang meninggal dunia tidak membawa sedikit pun materi kecuali kexuali kain kafan yang menjadi pembungkus jenazahnya. Dan orang mati itu hanya membawa amal sholeh dalam bentuk beriman dan bertaqwa, juga mensedekahkan / menginfaqkan harta bendanya dalam bentuk sedekah jariyah yang terus mengalir, dan itu tidak membutuhkan saku pada kain kafan. Adapun harta benda yang ditinggalkan itu adalah milik ahli waris sesudah hibah dan membayar hutangnya. Mendengar jawaban tersebut mereka pulang dengan ceria karena dalam hati mereka akan menjadi OKB (orang kaya baru) dizaman itu.

Kisah ini cukup menarik dan patut direnungkan oleh kita semuanya, apapun agama kita. Diantaranya : mencintai materi dunia berupa kekayaan itu tidak dilarang asalkan cara perolehannya benar dan pembelanjaan juga sesuai dengan perintah agama, yaitu infaq, sadaqah, zakat, hibah dan lain-lain. Artinya kekayaan materi itu janganlah  membuat kita menjadi bakhil alias pelit / kikir dan bersegeralah berinfaq sebelum kematian baca (QS : Al-munafikun : 10). Jadi, perintah berinfaq dalam pengertian seperti petunjuk ayat tersebut adalah memberi keuntungan yang luar biasa pada kita. Yaitu memberi kekayaan spiritual dan membuat kita kaya dihadapan Allah SWT. Karenanya perintah berinfaq / bersedekah mendapat perhatian yang cukup serius untuk diperhatikan kita semuanya. Karenanya tidak salah kalau orang mengatakan : harta benda tidak dibawa mati, jadi janganlah mencintai dia berlebihan yang membuat kita kikir alias tidak mau berinfaq. Kasihan banyak orang dan berbagai sarana bisa terlantar karena kekikiran kita. Dan itu kalau bisa berinfaq maka dia juga menjadi kekayaan kita sebagai amal jariyah.

Oleh karenanya kain kafan tak bersaku sebagai perlambang bahwa tidak ada satu materi pun dibawa mati kecuali amal shalih. Dan amal shalih itu tidak perlu saku karena bukan tempatnya disitu. Kita yang masih hidup ini sebenarnya diberi kesempatan untuk bermohon ampun sekaligus juga memperbanyak amal shalih. Ingat harta benda yang ditangan kita sekalipun usaha sendiri ada hak-hak sosial yang harus diberikan. Oleh karenanya mengabaikan hak-hak mereka akan sama halnya memakan hak-hak mereka juga , apalagi itu hak Anak Yatim, Fakir Miskin Ibnu Sabil dan Sabilillah… Nau’zubillahi min zalik. Semoga Allah melindungi kita dari mencintai dunia yang berlebihan dan senang memelihara siafat kikir sehingga melantarkan banyak pihak atau menzalimi sesama.

Uncategorized ,

No Comments to “KAIN KAFAN TAK BERSAKU”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*