Home » Uncategorized » THAT IS TOO MUCH

THAT IS TOO MUCH

That is too much lazimnya diterjemahkan dengan “itu berlebihan”. Kalimat ini kalau dilihat secara empiris dalam tataran kehidupan masyarakat sangat erat dengan kelakuan kita sehari-hari. Disebut demikian karena kalimat tersebut sering menjadi sikap dan perilaku orang yaitu dalam hal, berkata, berbuat bahkan beraktivitas baik secara mikro maupun makro. Atau dengan pengertian lain, manusia tidak pernah sepi dari hal yang berlebihan. Kalimat ini sama halnya dengan kata “israf” dalam Al-Qur’an yang artinya “berlebihan”, alias pemborosan. Dan pemborosan ini termasuk salah satu teman-temannya syaitan dan Tuhan tidak suka padanya, karena kita telah menjadi “Al-Musrifun” (QS. Al-A’n-Am : 141). Dengan demikian that is too much sama dengan Al-Mubazzirin dan Al-Musrifun itu sama saja satu perilaku manusia yang pasti mengundang bala’, dan mengusir berkah. Hal-hal seperti ini patut menjadi inspirasi kita untuk mengabaikannya. Sebab, di dalam kehidupan ini tidak yang pasti kecuali kematian. Dan kita bisa membayangkan bila datangnya kepastian tersebut sedangkan kita masih menjadi mubazzirin dan musrifun. Sudah tentu keadaan semacam ini akan mencelakakan kita di hadapan Allah SWT. Lalu mengapa ikut menjadi mubazzirin? Padahal masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita ? Bukankah hal itu juga menjadi mubazzir karena terlampau pelit alias kikir dan bakhil ? terhadap sesame ? Kita sepertinya sedang menikmati budaya hegemoni dan hedonisme yang nantinya mencelakakan sedangkan kita tidak mau menyadarinya. Sungguh aneh bin ajaib kalau penyakit ini tetap kita pelihara dalam kehidupan kita sampai mati. Hal tersebut ini bisa disebut that is too much alias mubazzir, alias musrifun, alias menanti datangnya kerugian.

That is too much harus disadari sebagai satu kesalahan mendasar dalam kehidupan kita. Kita harus mau merubah itu semuanya menjadi yang lebih baik dengan hidup qona’ah (merasa cukup) dan lebih penting dari itu ialah kita bisa memberi untuk sesama. Kita diperintah untuk hidup lebih tetapi tidak boleh berlebihan. Kelebihan ditangan kita itu hendaknya difahami sebagai hak orang lain yang dititipkan pada kita dan segera diberikan. Amanah inilah sesungguhnya bisa menyelamatkan dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung. Tanpa itu bukan mustahil kita kembali menjadi orang-orang merugi, bisa jadi merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang paling menyakitkan. Persoalan sekarang adalah masihkah diantara kita ingin merugi dan tidak suka dengan keberuntungan? Sebagai manusia yang masih  waras tentunya tidak ingin merugi dan berkeinginan menjadi orang-orang beruntung. Tetapi mendekatkan dua hal yang berbeda yaitu antara idealitas menjadi realitas bukan perkara yang gampang kecuali mereka yang mau. Orang-orang yang masih waras seperti kita harus mau melakukan itu supaya bisa mencicipi berkah dari Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kita didunia dan diakhirat nanti maka that is too much harus kita rubah  to be the best.

Uncategorized

No Comments to “THAT IS TOO MUCH”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*