Home » Uncategorized » PENCITRAAN

PENCITRAAN

15 May 2015

Pencitraan adalah membuat suatu hal agar citra kita menjadi baik di mata publik (Yahoo Answer). Mencermati pengertian tersebut, paling tidak ada dua pemahaman kita tentang pencitraan itu sendiri. Pertama : Pencitraan sebagai upaya positif untuk merekayasa sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kepentingan orang banyak (publik). Pencitraan seperti ini sangat dibutuhkan untuk memeberikan pelayanan publik secara optimal, sehingga publik merasakan kebaikannya. Maka yang muncul kemudian adalah penghargaan atau pujian publik pada mereka yang mengambil bagian dalam pencitraan tersebut. Dampak turutan dari pencitraan seperti ini adalah timbulnya kepercayaan (trust) publik kepada yang turut serta melakukan pencitraan tersebut. Selanjutnya suka atau tidak pencitraan seperti ini juga membuat pelaku pencitraan menjadi lebih berwibawa. Model pencitraan seperti ini bisa disebut sebagai inovasi untuk akselerasi satu keadaan menjadi berubah yang lebih baik. Pencitraan sebagaimana tersebut itu seharusnya menjadi kebutuhan kita, terutama para pemimpin / pejabat publik demi kebaikan umat. Dan membuat pencitraan seperti ini menjadi satu keniscayaan dalam rangka membagi dan menciptakan kesejahteraan terhadap sesama. Kedua : Pencitraan sebagai upaya berpura-pura untuk mencari pengharagaan / dukungan publik dengan mengada-ada sesuatu untuk kepentingan pribadi / kelompok. Pencitraan seperti inilah yang disebut sebagai politik pencitraan alias kemunafikan sistematik memperdaya publik untuk kepentingan mereka secara pribadi dan kelompok. Dan biasanya pencitraan seperti ini penuh dengan kebohongan, penyelewengan dan serta imitasi. Pencitraan seperti ini lebih banyak diciptakan oleh pejabat-pejabat publik, karena mereka memiliki otoritas / kekuasaan saja, tetapi tetapi tidak memiliki wibawa dan kecerdasan.

Model pencitraan seperti ini hanyalah mendatangkan berbagai madharat (kerusakan) pada mereka yang membuat pencitraan dan juga pada publik. Nama baik  mereka semakin terpuruk bersama pudarnya kepercayaan publik pada atas kemunafikan mereka itu. Dan last but not least publik akan mengatakan kepada mereka sebagai pemimpin atau pejabat imitasi (tiruan) atau boleh jadi disebut pemimpin / pejabat gadungan. Biasanya mereka seperti ini kerjanya hanya menciptakan opini palsu dan mendelegitimasi sesuatu yang baik menjadi lebih buruk. Sehingga publik hanya bisa menggigit jari atas perlakuan mereka yang sangat professional dalam soal bohong – membohong itu. Dan selanjutnya mereka menjadi bahan ejekan mulai dari warung – warung kopi dipinggir jalan sampai kantor – kantor berAC. Rasanya muak, tetapi juga geli, dan mengerikan karena mereka hanya bisa membuat pencitraan seperti ini yang membawa banyak korban. Publik hanya dihembus dengan angin sorga, tetapi yang datang adalah badai neraka. Lalu untuk apa kita memilih dan mempercayakan pemimpin / pejabat seperti ini ?

Memang mencari pemimpin / pejabat yang baik, jujur dan cerdas untuk saat ini dan boleh jadi akan datang termasuk manusia langka. Langka bukan karena tidak banyak atau sedikit sekali, karena tetapi publik tidak banyak yang tahu dan kalau pun tahu publik enggan memilih mereka karena terlalu jujur dan baik. Publik rupanya sudah terkontaminasi dengan politik pencitraan dengan uang sogokan walaupun hanya Rp.25.000, rokok dan nasi bungkus. Dalam posisi ini, publik juga termasuk dalam lingkaran setan untuk turut serta pada politik pencitraan mereka. Sehingga rasanya pula tidak adil kalau publik merasa paling suci atas politik pencitraan, dengan hanya menyalahkan pemimpin / pejabat yang melakukan politik pencitraan tersebut. Artinya kesalahan mereka, karena kita ikut terlibat mendukung tanpa melakukan upaya perbaikan berupa kritik konstruktif. Kita hanya boleh patuh kepada pemimpin / pejabat yang perintahnya tidak bertentangan dengan perintah agama, sebagaimana hadist Rasul SAW : La thaa’ta limakhluq fi ma’shiyat al khalik “tidak ada ketaatan pada sesama makhluk selama dia bermaksiat pada khalik. Hadis ini memerintah pada kita untuk mentaati siapa saja dan dimana sepanjang dia tidak memerintahkan kita untuk sesuatu yang dilarang agama, siapapun orangnya suku bangsanya dan agamanya, demikian pula sebaliknya. Maka konsekwensinya adalah kita hanya mau dan mendukung pencitraan untuk kebaikan dan harus menolak politik pencitraan tersebut. Karena kalau tidak, kita akan menggali kubur dan kita pula yang memasukinya secara masal. Untuk itu lebih terhormat kiranya kalau pemimpin / pejabat kita selalu melakukan pencitraan dalam arti merekayasa hal-hal positif untuk kemaslahatan umat dengan memegang teguh siaft sidiq, amanah, fathanah dan tabliqh wajib mendukung mereka Insaya Allah kita akan menjadikan umat dan bangsa ini lebih maju dan bermartabat. Sembari menjauhi politik pencitraan yang penuh dengan kemunafikan itu.

Uncategorized