Home » Uncategorized » JAUH DIMATA, DEKAT DIHATI

JAUH DIMATA, DEKAT DIHATI

Manusia sering kali terbelenggu dengan perasaan buruk sangka (su’al-dzan)nya sendiri. Dikiranya sesuatu yang jauh dimata, tidak terlihat sehingga dia bisa seenaknya sendiri melakukan apa saja yang diiginkan kendatipun bertentangan dengan agama. Padahal perasaan tersebut membuat manusia memenjarakan dirinya dalam hubungan dosa dan maksiat.

Manusia seharusnya menyadari Tuhan itu Omni potent (Maha Kuasa) dan Omni present (Maha Hadir dimana-mana). Sehingga perlu membangun keyakinan bahwa Tuhan bisa berbuat apa saja dan dimana saja tanpa ada yang bisa mencegahNya. Keyakinan ini sangat diperlukan untuk menciptakan kesadaran diri bahwa secara kasat mata Dia jauh, tidak terlihat, tetapi mata bathin kita harus meyakini bahwa Dia dekat bagaikan anatar urat nadi leher dengan leher kita. Jadi Tuhan Allah SWT memang jauh dimata, tetapi dekat dihati, artinya Dia melihat, merekam dan mengawasi apa saja dan diamana saja perbuatan para hambaNya. Ini tergambar jelas pada firmanNya : “barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)Nya. Dan barang siapa yang megerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)Nya” (QS ; Al-Zalzalah : 7-8). Ayat tersebut member petunjuk yang amat jelas dan pasti bahwa apa saja yang kita lakukan dan itu ada dimana saja Allah SWT pasti melihatnya dan juga membalasNya. Oleh karenanya itu membangun kesadaran bahwa keberadaan kita berikut perbuatan kita semuanya tidak akan pernah terlepas dari pengawasan Allah SWT. Jangan berfikir konyol seperti orang tidak berpendidikan : bahwa Dia jauh dan tidak melihat maka kita boleh melakukan apa saja dan dimana saja. Itu pemikiran konyol dan pasti membuat diri kita menjadi konyol dihadapan sesama, apa lagi dihadapan Allah SWT.

Bahwa memahami kita sebagai manusia biasa tidak terlepas dari dosa dan kesalahan memang iya. Tetapi karena diberi akal dan petunjuk agama, maka jangan pernah membiarkan dosa dan kesalahan tersebut terus terjadi apalagi disengaja. Berusaha mengurangi dosa dan keslahan itulah menjdi kewajiban kita semua untuk menjadi orang yang shalih (kaum Sholihin). Karena bagaimanapun juga semua apa yang kita perbuat itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT (baca : QS. At-Takastur :8).

Allah SWT sejatinya dekat dengan para hambanya , maka upaya hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya (Taqarrub Ilallah) itu menjadi satu keniscayaan. Tanpa itu kita menjadi orang-orang yang merugi di dunia ini dan juga di hari akhir nanti. Kita sebagai orang beragama tentunya mempunyai cita-cita mulia dengan melaksanakan, pekerjaan-pekerjaan mulia agar kita memperoleh kebahagiaan dari Allah SWT. Maka Tuhan jauh dimata kita hanyalah persoalan teknis semata, tetapi secara substansial Allah SWT itu dekat sekali dengan kita (baca jauh dimata, dekat dihati).

Uncategorized ,

No Comments to “JAUH DIMATA, DEKAT DIHATI”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*