Home » Uncategorized » POTRET KEHIDUPAN

POTRET KEHIDUPAN

a197ad63-2bc8-4032-9118-d51d5a47e7a2Manusia telah dihadirkan oleh Yang Maha Kuasa di muka bumi ini dengan jabatannya sebagi Khalifah, penguasa atau pemimpin. Jabatan ini hanya diberikan pada manusia karena memiliki persyaratan standar yaitu berakal, berhati nurani dan beragama. Dari syarat standar itu manusia diharapakan dapat memainkan fungsi dan perannya secara optimal memberi kebaikan untuk Ketuhanan dan kemanuisaan semesta bersama lingkungannya.

Dalam perjalanan hidup manusia sering kali terlihat penampilan mereka dalam wajah yang beragam. Ada wajah keTuhanan ada wajah kemanusiaan, dan ada pula wajah seperti makhluk selainnya. Manusia pada wajah keTuhanan menampakkan kesetiaanya taat dan bakti pada Yang Maha Kuasa menjadi focus perhatiannya. Tipe manusia seperti ini menjadikan agama sebagai tolok ukur segala tindakannya. Dari hulu sampai hilir mengalir ajaran keTuhanan untuk dirinya, sesamanya, dan untuk makhluk selainnya. Bila dia mendapat nikmat, maka syukur itu menjadi role model kehidupannya, jika mendapat musibah maka sabar dan tawakkal itu tempat berlabuhnya. Jabatan, kekayaan dan segala kesuksesan yang diraihnya tidak pernah membuat dia  sombong dan menepuk dada kecuali menerima kelebihan itu sebagai titipan (amanah). Dalam kesehariannya, tampk dzikir, istighfar dan do’a menguasai perbuatan dan pekerjaannya. Member ma’af, menolong sesama merupakan bagian dari kepribadiannya terus melekat kapan dan dimanapun berada. Inilah yang disebut al-Insan fil surat al-malaikah, manusia dalam bentuk /gambaran malaikat. Manusia dalam wajah kemanuisaan menghadirkan ahlak mulia dalam pergaulannya kendati pun dengan orang yang berbeda agama, suku dan bangsa. Dalam pribadinya terukir rasa kemanusiaan tulus pada sesama, mencintai sesama dalam saat lapang maupun pada masa sempit. Baginya semua apa yang terjadi ada hikmah dan pelajaran dibalik itu, sehingga lisannya terucap “Robbama khalaqta haza batilah, Tuhan kami, tiadalah yang sia-sia yang diciptakan. Tidak terbesit sedikit pun perasaan apalagi perbuatan yang merugikan sesama, dan yang ada dalam kepribadiannya bagaimana terus mencari kebaikan dan membaginya pada sesama. Dia hadir ditengah-tengah masyarakat bagaikan lebah dengan madunya, tidak pernah melapukkan cabang atau ranting pohon yang dihinggapinya, pergi meninggalkan madu menjadi penawar bagi kehidupan manusia. Manusia seperti ini telah terjadi penyatuan Rabbaniyah dan insaniyah dalam potret kehidupan tampak bersih, bersinar dan memikat orang untuk merindukan kedatangannya. Dia datang membawa sejumlah kebahagiaan dan dia pergi juga meninggalkan kebahagiaan walaupun dibalut dalam tangisan duka.

Namun, siapa yang menyangka bahwa ada wajah lain dari manusia yang menampakan kebuasannya, keganasan dalam kesadisan perilaku. Orang lain atau pun makhluk lain yang tidak berdosa selalu saja menjadi korban kebiadabannya. Dia puas melampiaskan syahwat jeleknya pada manusia dan alam semesta, dia berdendang ria melihat penderitaan orang lain sembari mengatakan aku tidak ingin masuk sorga yang disediakan oleh Tuhan biar akulah yang menjadi orang penghuni neraka. Disana akan bertemu dengan para pejabat yang dzalim pada rakyatnya, orang pinter yang menyesatkan orang bodoh, para ulama yang suka menipu umat, para cendekiawan yang mendewakan akal, para artis yang menjual diri untuk mendongkrak popularitasnya, politisi yang suka uang dan kursi secara illegal, dan orang kaya yang mencuri harta rakyat / Negara.

Pendek kata manusia pada wajah ini menjadikan maksiat sebagai kegemarannya, sementara itu perilaku brutal menjadi senjata pelindung dirinya. Dia tidak pernah menyangka diatas langit masih ada langit, diatasnya ada kekuasaan dan kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Karena ada kekuasaan Yang Maha Kuasa diatas segalanya itulah membuat dia bertekuk lutut. Tangannya diborgol dimasukkan kedalam hotel prodeo dalam hitungan tahunan, bahkan juga seumur hidup dan menyerahkan nyawanya pada regu tembak. Itulah Neraka dunia menghampirinya sebelum datang neraka akhirat yang sesungguhnya.

Melihat potret kehidupan manusia sebagaimana tersebut diatas, maka tidak ada yang paling membahagiakan potret kehidupan tersebut kecuali menampakkan wajah keTuhanan dan wajah kemanusiaan dalam potret kehidupan kita. Maka rumus standarnya sederhana : Jadilah orang baik untuk Tuhan dan sesama MakhlukNya. Perhatikan firman Allah :”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa” (QS; al-Baqarah : 21). Kalimat-kalimat U’budu Rabbakum, dan laallakum tattaqun pada ayat tersebut  mengandung makna aplikatifnya adalah : manusia yang baik untuk Tuhan dan terhadap sesama. Itulah potret kehidupan kita yang menguntungkan sekaligus juga membahagiakan. Potret kehidupan seperti inilah harus kita cari dan mencapainya sebagai jaminan keselamatan / kebahagiaan kita baik kehidupan sesama maupun di hadapan Yang Maha Kuasa. Semoga kita bisa meraihnya.

Uncategorized

No Comments to “POTRET KEHIDUPAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*