Home » Artikel » ULU ALBAB

ULU ALBAB

6 November 2014

images (19)Kata Ulu albab diterjemahkan “orang-orang yang berakal”, atau dengan terjemahan bebasnya adalah orang-orang cerdas” yaitu mereka yang melakukan sesuatu dengan pertimbangan nalar yang sehat atau masuk akal, atau berdasarkan argumentasi yang benar pada suatu pilihan kebijakan. Ketika kita menyebut ulu albab itu, orang sering mengkaitkannya dengan kecerdasan intelektual saja, pada hal tidak demikian. Hemat saya ulul albab itu menyatunya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan  kecerdasan hati nurani yang menyebabkan orang bisa memperoleh martabat berupa kemuliaan baik di hadapan manusia maupun dihadapan Allah SWT. Kalau kita menyebut orang cerdas tapi tidak bermartabat, karena ia mengandalkan kecerdasan intelektual semata, tanpa mengaitkannya dengan kecerdasan emosioanal dan hati nurani. Maka kemudian kita hanya menjumpai kaum intelektual yang aragon mau menang dan benar sendiri, bahkan sok pinter sendiri, yang selainnya salah dan sebagainya. Itulah yang disebut dengan intelektual yang tidak bermartabat.

Ulu Albab meminjam istilahnya Prof. Dr. Nurkholis Majid, beliau menyebutnya “men of understanding” atau orang berpengertian mendalam. Pengertian ini menurut saya lebih pas daripada hanya dikatakan sebagai orang-orang berakal saja. Disebut demikian kata-kata “berpengertian mendalam” itu menyangkut aspek kecerdasan intelektual, emosional dan hati nurani. Sehingga kaum intelektual dalam pengertian ini bisa dikatakan sebagai sosok pribadi yang cerdas intelektual dengan Ipteknya dan anggun bersama imtaq (iman dan taqwa)nya.

Maka kalau kita menyebut kaum intelektual hanya karena mereka yang memiliki label akademik, sesungguhnya sesuatu yang salah kaprah dan tidak perlu dibudidayakan lagi. Karena banyak fakta yang membuktikan bahwa pelaku-pelaku kejahatan global/modern justru karena peran sertanya kaum intelek yang salah kaprah tadi.

Persoalan kemudian adalah bagaimana ulul albab dalam perspektif Al-qur’an itu ? Ternyata jawabannya ditemukan dalam Al-qur’an surat Ali Imran ayat : 190-191 yang tanda-tandanya adalah sebagai berikut : a. Orang-orang mengingat Allah (berzikir) dalam segala hal / keadaan b. Orang-orang yang memikirkan ciptaan Allah (berfikir) dan c. Orang-orang yang mengakui kebenaran dari Yang Maha Kuasa. Karenanya hemat saya menyebutkan kaum intelektual itu adalah mereka yang didalamnya menyatu tiga potensi besar , yaitu dzikir, fikir, dan pengakuan, inilah intelektual yang sebenar-benarnya. Disebut demikian karena sampai dengan hari ini ataupun hari-hari kedepan, kita masih banyak menjumpai orang cerdas yang tidak berzikir jauh dari ibadah-ibadah ritual. Mereka hanya mau bergabung dengan ibadah-ibadah sosial saja karena kepentingan tertanam (visit interest). Tidak hanya itu saja, tetapi kita masih menemukan orang-orang cerdas yang mengutak-atik kebenaran Tuhan dengan syahwat intelektualnya sehinggga menggeser kebenaran mutlak menjadi kebenaran temporer inilah yang kita temukan kelompok intelektual dari kaum sekuler dan kaum liberal, dan mereka sepertinya lebih pintar dari Allah dan Rasul.

Maka tugas kita kedepan adalah meluruskan kelompok-kelompok tersebut dan mengajak mereka kembali kejalan yang benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Karena bagaimanapun juga hebatnya akal manusia, namun masih sangat terbatas kemampuannya bila di bandingkan dengan kebenaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Karenanya mentaati perintah Allah dan Rasul itu sesungguhnya perintah untuk kembali pada kebenaran pasti sekaligus menghindari dari kebenaran spekulaif walaupun diperlukan. Bagi kita sebagai kaum intelektual (Ulul Albab) tentunya persoalan tersebut menjadi sangat penting untuk tidak mendewakan akal dalam kehidupan ini. Artinya, menggunakan akal itu satu keniscayaan bagi kita, tetapi akal bukan segalanya untuk manyelesaikan problem kehidupan ini. Maka zikir, fikir dan pengakuan seorang intelektual menjadi sangat bermakna untuk meraih kemuliaan serta martabat kehidupan kita. Semoga dengan hal tersebut  kita bisa menikmati dunia yang hasanah dan juga hari akhir yang hasanah pula.

Artikel

No Comments to “ULU ALBAB”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*