Monthly Archives: October 2014

MISKIN

2 October 2014

miskinLafadz miskin / masakin bukan bahasa Indonesia, lafadz tersebut berasal dari bahasa Al-qur’an yang sehari-hari difahami sebagai “tidak berpunya”. Anehnya lafadz ini sering dialamatkan pada mereka yang tidak berpunya secara ekonomi / materiel. Sehingga mereka yang berpunya secara ekonomi/ materiel dipandang orang kaya /elit. Padahal pemahaman semacam itu sangat menyederhanakan persoalan besar/kompleks yang kini dirasakan oleh sesama. Al-qur’an menyebut kata-kata miskin / masakain sebanyak 23 kali, satu sebutan yang serius dan berulang dengan berbagai dampak yang ditimbulkan. Memang lafadz miskin/masakin dalam Al-qur’an terkadang menggunakan keterangan khusus dari lafadz lain sebelum atau sesudahnya. Sehingga pemahaman pun harus diartikan sebagaimana lafadz sebelum dan sedudahnya. Oleh karenanya lafadz miskin/masakin tidak boleh difahami hanya “ketiadaan secara ekonomis/materiel, tetapi juga harus difahami sebagai “ketiadaan iman , moralitas. Pemahaman seperti ini pada akhirnya membentuk kenyataan bahwa : mereka yang tidak berpunya secara ekonomi belum tentu disebut miskin/masakin kalau ada moralitas terpuji berupa sabar dan syukur, pun demikian orang memiliki materi yang banyak belum tentu disebut kaya karena masih rakus dan tidak peduli terhadap sesama, atau paling pas adalah sebutan kaya harta, miskin budi. Atau bisa disebut miskin materi kaya budi. Pemahan seperti ini dipandang lebih logis, masuk diakal dan sesuai dengan kenyataan , karena defacto menunjukan banyak orang miskin secara materi tetapi mereka kaya dalam budi luhur, demikian banyak kaya secara materi tetapi sangat miskin dengan budi pekerti mulia. (more…)

« Previous Page