Home » Artikel » ATAS NAMA AGAMA

ATAS NAMA AGAMA

14 October 2014

images (13)Kita sepertinya dibuat lelah dan memuakkan ketika menyaksikan gerakan-gerakan brutal-sadis yang mengatasnamakan agama. Gerakan-gerakan tersebut tampaknya tidak pernah berhenti dari dahulu hingga sekarang, dan mungkin sampai akan datang. Kita menyaksikan tontonan tidak manusiawi tersebut hampir diseluruh lini kehidupan kita, mulai dari agama sampai pada persoalan ekonomi, politik dan sosial budaya. Anehnya gerakan-gerakan tersebut dikemas dengan dan atas nama agama, sehingga menghentakkan sebagian orang serta merta menjadi pendukung dan pembelanya. Padahal perbuatan-perbuatan tersebut sudah diluar agama, alias perbuatan terkutuk dari orang-orang yang telah dikuasai syahwat jelek. Bahkan juga Tuhan dan manusia yang waras ikut mengutuk perbuatan tersebut karena telah merusak kemanusiaan semesta atau mendatangkan bencana kemanusiaan universal.

Kita semua faham bahwa kehadiran agama apapun agama itu bertujuan untuk riwayat almasalih al-ummah (menciptakan kebaikan umat). Sehingga kalau ada agama yang mengajarkan perbuatan-perbuatan destruktif tersebut itu pastikan bukan agama yang benar melainkan hanya keinginan orang-orang tertentu yang mengatasnamakan agama. Agama hanya mentolelir perang dengan segala resikonya. Kalau diperangi, dan itupun masih mempunyai etika kemanusiaan seperti dilarang membunuh orang yang sedang membunuh orang yang tidak sedang membunuh atau memerangi kita, orang-orang tua, harta benda, hewan ternak juga tidak boleh diganggu, alias dipelihara. Ini artinya perang dalam agama hanya bersifat prefentif untuk mempertahankan diri walaupun ada strategi yang mengatakan bahwa “pertahanan yang paling baik itu adalah menyerang”. Tetapi persoalannya bukan strategi melainkan faktual, yaitu perintah memerangi orang-rang yang memerangi kita hanya untuk mempertahankan diri (self difence), karena perang hanya “membunuh atau dibunuh”

Jadi pembunuhan dan kekerasan diluar itu sungguh agama mengutuknya karena bertentangan tujuan akhirnya agama dalam kehidupan manusia. Karenanya membuat statement menghalalkan darah antara sesama itu merupakan statement orang-orang tidak waras alias gila beneran karena melampaui batas agama dan kemanusiaan. Memang diakui paling mudah menggerakkan perbuatan destruktif dengan atas nama agama, sehingga istilah “jihad” yang begitu mulia maknanya, yaitu berjuang dijalan Allah untuk kemanusiaan semesta bisa berubah menjadi “jahat”. Disebut demikian Karena selain perbuatan jahat yang terkutuk itu juga menyebabkan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa diterima oleh orang masih waras akalnya. Jadi, perbuatan destruktif atas nama agama itu sejatinya makar setan yang wajib dijauhi. Jika tidak maka bencana kemanusiaan akan terus terjadi dan melanda di-mana-mana dan itu merupakan ancaman yang sangat membahayakan bagi manusia semesta.

Memang ada motif-motif tertentu dari perbuatan destruktif atas nama agama itu, hanya saja motif-motif tersebut telah membutakan mata hati untuk menari diatas penderitaan orang lain. Disinilah pentingnya memfungsikan hati, mata, telinga untuk merasakan dan mendengarkan panggilan kebaikan/kebenaran supaya keberadaan manusia tetap terjaga sebagai makhluk Allah yang mulia. Bila tidak, maka keberadaan manusia tersebut lebih sesat dari pada hewan. Perhatikanlah firman Allah: “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya (untuk memahami ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS. Al-A’raf: 179). Perhatikan petunjuk ayat tersebut diatas, betapa hinanya orang yang tidak memfungsikan nikmat Tuhan yang melekat padanyauntuk jalan-jalan yang benar. Ini satu peringatan serius dari Yang Maha Kuasa kepada kita agar tetap terjaga martabat kemanusiaan kita sebagai hambaNya yang mulia. Tanpa hal tersebut kita akan menjadi makhluk Tuhan yang sama bahkan lebih hina dari makhluk-makhluk lain. Nuasnya singa masih lebih baik dari pada buasnya manusia. Singa yang kelihatan buas itu bila mengejar mangsanya hanya satu yang dimangsanya, tetapi  buasnya manusia orang banyak bisa menjadi korban kebuasan seorang. Inilah yang disebut bahwa manusia lebih sesat dari hewan itu (bal hum adhal). Maka jalan keluarnya adalah kembali pada agama sebagai pedoman dan petunjuk hidup untuk meraih kebahagiaan.

Artikel

No Comments to “ATAS NAMA AGAMA”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*