Home » Artikel » TEGA NIAN

TEGA NIAN

15 September 2014

Tega-Logo“Dunia ini bagaikan panggung sandiwara”, begitu kata penyanyi rock Ahmad Albar. Banyak orang berpura-pura dan sengaja hidup dalam kepura-puraan. Kaya raya, tapi berpura-pura miskin. Pintar, tapi berpura-pura bodoh. Sombong, tapi berpura-pura tawadhu. Bisa beracting tergantung user (pesan sponsor) menghendakinya. Semua perilaku manusia seperti serba dibuat-buat, tidak otentik. Diketahui bahwa telah terjadi sikap menipu diri dan juga menipu orang lain, dan merekapun betah merasa sikap menipu itu telah meyakinkan banyak pihak untuk menaruh kepercayaan pada mereka. Akibatnya menipu sebagai budaya yang bersinergi dan bersinambung dalam setiap aktivitas mereka. Tanpa terasa, mereka telah melakukan perbuatan sampai hati pada dirinya maupun orang lainyang disebut dalam bahasa gaulnya “tega nian”. Dalam perjalanan kehidupan mereka tega nian berkembang menjadi raja/ratu tega pada sesama. Dia kaya raya, tetapi menjadi raja/ratu tega pada orang miskin. Dia pintar, tetapi menjadi raja/ratu tega dengan orang yang tidak tahu soal-soal keagamaan, kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Mencermati kehidupan raja/ratu tega semacam ini, kita perlu mewaspadai mereka dalam arti menjaga diri dan keluarga agar kita tidak ketularan seperti mereka. Maka cara terbaik adalah menaklukkan raja/ratu tega dari orang kaya raya menjadi dermawan, si pintar menjadi peduli mengajarkan ilmunya pada orang-orang yang membutuhkannya, melenyapkannya sifat sombong, takabur menjadi tawadhu dan qana’ah emosional menjadi penyabar dan sebagainya.

Diakui bahwa hidup dalam era modern ini banyak terjadi lompatan kemajuan dan munculnya kualitas hidup yang beragam. Tetapi bersamaan dengan itu melahirkan banyak manusia penyandang predikat sebagai raja/ratu tega baru yang tanpa malu merusak citra kemanusiaannya pada sesama. Ini artinya terjadi kemajuan yang tidak beradab dalam kehidupan manusia yang harus diwaspadai. Karena betapapun juga keinginan manusia untuk maju dan modern jika hilang kewaspadaan, maka yang datang kemudian adalah kesenangan semu yang didalamnya tersimpan sejumlah bencana yang bakal menimpanya. Berapa banyak orang kaya raya hidup bergelimang kekayaan, pada akhirnya tinggal di penjara, demikian juga orang pinter pun tidak ketinggalan turut serta menghuni hotel prodeo. Semuanya itu menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi berkah dalam kekayaan dan kecerdasan bahkan juga dalam jabatan yang menyebabkan para pemiliknya harus merasakan akibat buruknya. Mereka seperti ini dahulunya menjadi raja/ratu tega mengumpulkan kekayaan walaupun dengan cara-cara haram, mencerdaskan dirinya dengan cara menipu atau melakukan pelacuran akademik bahkan juga dengan jabatan tega memanfaatkan kesempatan, menyalahgunakan jabatan untuk dirinya. Akhirnya kita rela melepaskan kata-kata “tega nian” mereka itu, dan mereka pun terpaksa tidak merespon itu untuk membela diri, kecuali menyesal, gigit jari dan menghela nafas panjang tanda sadar atas ketegaan mereka sendiri.

Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan istri dan anak-anak melihat suami dan Bapak mereka mengenakan baju tersangka dan pakaian nara pidana. Kita juga tidak habis berfikir membayangkan perasaan suami dan anak-anak mereka melihat istri dan ibu mereka mendekam dalam penjara dengan gelar baru sebagai koruptor atau narapidana. Begitulah sang “tega nian” menjalani aksinya dengan berbagai modus vivendinya untuk menjerat dan menyesatkan orang terpandang dalam sebuah residen baru yang bernama penjara/bui-lembaga pemasyarakatan. Tidak hanya itu, tetapi mereka juga menerima sanksi sosial dengan label mantan nara pidana, mantan koruptor dan lain sebagainya, yang oleh Roma Irama disebut kata “Ter… la… lu…”. Ini semuanya terjadi selain manusia kehilangan kewaspadaannya, juga yang paling fatal adalah tidak konsisten dan komitmen antara kata dengan perbuatan, antara sumpah jabatan dengan perilaku mereka. Maka patut menjadi renungan kita bersama pada petunjuk Tuhan dalam firman-Nya “Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-pa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash-Shaff : 2-3). Ayat tersebut sepertinya Tuhan sedang berbicara dengan kita untuk selalu konsekuen dan komitmen antara perkataan dengan perbuatan di dalam kehidupan. Peringatan Tuhan sebagaimana pada ayat tersebut diatas sekarang telah menjadi satu kesengajaan kita untuk mengingkarinya, maka balasan kemudian adalah malapetaka. Atau dengan pengertian lain kebanyakan diantara kita telah menjadi raja/ratu tega sehingga “tega nian” melakukan sesuatu yang merusak diri dan sesama. Semoga kita selalu terjaga dari perasaan “tega nian” pada sesama. Jangan kita seperti kata penyanyi dangdut Meggy Z “Teganya… tenganya… tenganya…”.

Artikel

No Comments to “TEGA NIAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*