Home » Artikel » MEMBAGI KEBAIKAN

MEMBAGI KEBAIKAN

10 September 2014

kebaikan-kecil-kebaikan-besar (1)Kita sebagai orang yang beragama, apapun agama kita ada satu perintah yang paling banyak disebut-sebut adalah “perintah berbuat baik”. Di dalam kitab-kitab suci agama disebutkan perintah berbuat baik itu dengan redaksi yang berbeda, tetapi intinya adalah menyuruh umatnya untuk berbuat baik. Maksudnya adalah kehadiran manusia di muka bumi ini supaya bisa membagi kebaikan pada orang lain. Sehingga kalau ada manusia hanya menerima kebaikan dari orang lain tanpa membagi kebaikan pada sesama maka sesungguhnya dia/mereka telah mempersempit kehidupannya sendiri. Yaitu tidak ingin memperkaya diri dengan membagi kebaikan pada sesama, padahal kesempatan untuk itu selalu ada pada masing-masing diri.
Kita seringkali merasa guman melihat perilaku kebanyakan manusia di sekitar kita, mereka hanya menunggu dan menerima kebaikan orang lain, tanpa membagi/memberi kebaikan pada sesama. Orang seperti ini telah membelenggu potensinya untuk membagi kebaikan dan menggantinya dengan hanya menerima kebaikan orang untuknya. Yang paling mengerikan dari itu adalah merasa tidak mempunyai kewajiban memberi atau membagi kebaikan pada orang lain, bahkan terjadi apa yang disebut dengan “air susu dibalas dengan air tuba, atau ditolong tetapi menohok”. Tipe manusia seperti ini rasanya kurang bersyukur dengan nikmat pemberian Tuhan yang begitu besar/banyak padanya, bahkan cenderung mengingkarinya. Bukankah orang-orang seperti ini tergolong mereka yang kikir dengan kebaikan? Jawabnya sudah tentu iya, dan tergolong orang-orang kikir dengan kebaikan. Disebut demikian karena pada dirinya terdapat berbagai potensi untuk melakukan kebaikan termasuk membagi kebaikan tetapi mereka tidak mau melakukan itu. Sebabnya bisa bermacam-macam, adakalanya karena mereka terbiasa untuk dan hanya memikirkan diri mereka sendiri, acuh terhadap sesama, juga boleh jadi tidak ada orang yang membimbing mereka, atau jarang mendengar tausiyah dan lain-lain. Maka dari itu mereka menganggap hidup seperti itu benar adanya, padahal tidak demikian, harus ada dari kita semua untuk melakukan kebaikan, baik menerima dan membagi kebaikan. Karena sejatinya kebaikan yang kita berikan pada orang lain itulah menjadi milik kita yang permanen sepanjang tidak riya atau pamer.
Kita semua mempunyai hak yang sama yaitu berbuat kebaikan termasuk menerima dan memberi kebaikan pada sesama. Ini harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari sehingga bisa membentuk watak menjadi dermawan kendati pun apa yang kita berikan itu sedikit. Yang penting bagi kita memberi itu jauh lebih berharga daripada hanya sekedar menerima kebaikan dan lebih berharga lagi kalau sesama kita saling membagi kebaikan.
Adalah suatu kepuasan bagi kita bila orang-orang lain hidup layak sebagaimana kita kendatipun jalannya melalui bantuan kita. Karena disitulah letaknya kebahagiaan kita karena orang lain bisa bahagia sebagaimana kita juga. Kultur seperti perlu menjadi idaman dan obsesi untuk membangun kebaikan bersama dalam arti saling asah, saling asuh, saling asih untuk kepentingan bersama. Ikatan kultur inilah menjadi perekat di dalam membangun harmonisasi kehidupan sesama tanpa cedera apapun.
Ini pulalah disebut membangun masyarakat marhamah, yaitu satu sama lain saling kasih sayang dalam kebaikan. Maka konsep membagi kebaikan itu merupakan pintu masuk mewujudkan masyarakat “marhamah” dimana ada kenyataan untuk saling menolong diantara sesama kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kehidupan kita semuanya. Kalau sudah demikian adanya, maka kita boleh mengklaim bahwa diantara orang yang paling kaya adalah kita yang selalu menanam dan membagi kebaikan terhadap sesama dalam arti give and give, bukan take and give sebagaimana pada umumnya. Betapa kaya orang yang selalu give and give didalam hidup mereka, karena mereka telah menanam kebaikan yang banyak. Perhatikanlah firman Allah : “Perumpamaan(nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 261). Begitulah orang yang kaya dengan modal suka memberi alias membagi kebaikan terhadap sesama. Maka marilah kita belajar untuk membagi kebaikan dengan jalan suka memberi sekali lagi belajar menjadi orang yang give and give itu lebih baik dan bermartabat daripada take and give. Memberi dan membagi kebaikan tidak selamanya bersifat material, tetapi juga non material, syukur kalau kita bisa membagi kebaikan berupa materi dan non materi terhadap sesama. Itu kekayaan yang luar biasa bagi siapa yang melaksanakannya, dan pada gilirannya kekayaan tersebut menolong kita juga.
Bukanlah perbuatan hina orang yang hanya menerima kebaikan, tetapi akan lebih mulia lagi para penerima kebaikan tersebut juga mau membagi kebaikan terhadap sesama sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semoga kita semuanya menjadi orang-orang kaya di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Artikel

No Comments to “MEMBAGI KEBAIKAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*