Home » Artikel » LIKE OR DISLIKE

LIKE OR DISLIKE

5 September 2014

images (9)Like or dislike artinya suka atau tidak suka . Ini merupakan salah satu dari sekian banyak sifat manusia disaat memberi respon pada sesuatu peristiwa, kejadian dan lain-lain. Like or dislike ini ada karena adanya good or bad (baik atau buruk), atau right or wrong (salah atau benar). Persoalan kita adalah bagaimana meletakan like or dislike itu pada tempat yang tepat atau pada porsi yang benar. Ini menjadi sangat penting agar tidak menimpakan bencana berupa fitnah, adu domba, menuduh, dan lain sebagainya kepada orang lain. Kita sering kali merasakan akibat buruk yang ditimbulkan like or dislike ini, sehingga sebagian masyarakat memandang kita sebagai biangnya. Adapun meletakan like or dislike pada tempat yang benar itu memerlukan alasan logis yang diterima akal dan agama, bukan sekedar mencari alasan pembenar. Maksudnya, ketika kita merespon suka atau tidak suka pada sesuatu itu dengan alasan yang benar, bukan alasan pembenar, maka semua orang bisa menerima dan memahami kita. Jika tidak, maka bukan mustahil masyarakat akan mencibir kita, bahkan menilai kita dengan tudingan-tudingan yang tidak menyenangkan sebagai akibatnya. Jadi, mengatakan like or dislike itu bukan asbun (asal bunyi) karena lidah tidak bertualng itu, tetapi perlu menyusun kriterianya. Atau pengertian lain menyebut like or dislike itu harus obyektif / jujur tanpa motif-motif tertentu atau kepentingan-kepentingan terselubung (vested interest)

Dalam hidup bermasyarakat, like or dislike ini telah menjadi bagian yang menyatu dalam aktifitas keseharian kita. Suka atau tidak, hal tersebut selalu dan terus terjadi pada kita yang terkadang membawa dampak positif maupun negatifnya secara luas. Kalau itu berdmapak positif maka akan menimbulkan kepercayaan (trust) orang pada kita. Tetapi berdampak negatif, maka kita rasakakan kemudian adalah ketidak percayaan (distrust) orang pada kita, dan ini termasuk hal yang merugikan. Oleh karenanya mengatakan like or dislike itu jangan menggunakan cara-cara sapu rata, atau megeneralisasi yang melampaui batas, salah satu, salah semua, atau hanya karena ulah seorang , orang lain yang tidak bersalah pun menanggung resikonya. Kita seharusnya menyadari bahwa didalam hal yang disukai itu pasti terdapat hal-hal yang tidak disukai, demikian pula sebaliknya. Sehingga menentukannya pun harus ada tolak ukur yang logis supaya tidak terjadi apa yang disebut dengan “mala yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu, (kalau kamu tidak suka sebagian , maka jangan membuang semuanya), boleh jadi masih ada kebaikan didalamnya yang masih diperlukan. Disinilah pentingnya memperhatikan pesan Rasul SAW “ Qul khairan aw liyasmut (katakan yang baik, atau diam). Petunjuk hadist tersebut sesungguhnya mengajarkan kita untuk tidak gegabah mengambil keputusan dalam melakukan sesuatu melaui lisan melainkan memerlukan pertimbangan yang matang sehingga ada keadilan yang proporsional menyertainya.

Kita, tanpa merasa telah berbuat zalim pada sesama karena melanggengkan budaya sesat seperti pepatah ini : ”Karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Nila pada zaman dulu masih dianggap racun yang berbahaya, tetapi berjalannya waktu dimana teknologi pengobatan herbal berkembang pesat maka nila dizaman sekarang telah menjadi obat, bahkan dibudidayakan. Kalau nila setitik jatuh pada susu sebelanga, maka diaduk saja menjadi satu menjadi minuman yang berenergi lagi sehat, lalu kenapa susu sebelanga harus rusak karena nila setitik ? Pepatah ini sangat menyesatkan kita dengan menghadirkan sejumlah perbuatan zalim pada para pihak yang bersalah. Ini terbukti ketika kita sudah tidak suka pada seseorang, maka kebaikan atau jasa orang tersebut semuanya dianggap rusak padahal tidak demikian. Kita  boleh menyalahkan kesalahannya orang tapi juga harus menghargai kebaikannya atau jangan meyalahkan kebaikan atau jasanya hanya karena kesalahannya. Kita jangan seperti setan gundul yang tidak pernah menghargai kebaikan dan jasa orang yang bersalah sama seperti pepatah ini “sekali lancing ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Ucapan setan gundul seperti ini kalau tidak kita kritisi maka akan menjebak dan menjaring kita menjadi orang-orang sesat karena mengabaikan kejujuran, memakai kebohongan menilai orang. Akhirnya boleh jadi kita menilai orang baik itu karena kita suka padanya walaupun de facto dia bukan orang baik, dan bukan mustahil orang yang baik itu bisa menjadi tidak baik karena kita tidak suka padanya. Hal-hal demikian bukan perbuatan orang – orang cerdas ? Jika like or dislike itu sangat manusiawi, tetapi jangan memusnahkan kemanusiaan kita dan mereka. Berilah mereka kesempatan meraih masa depan sambil memperbaiki kesalahan sebagaimana kita pernah melakukan itu dalam kehidupan ini. Bertoleransilah terhadap sesama untuk meraih kebahagiaan dan kebaikan bersama demi kemanusiaan kita semuanya. Amin.

Artikel

No Comments to “LIKE OR DISLIKE”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*