Home » Artikel » COMFORT ZONE ?

COMFORT ZONE ?

2 September 2014

comfort zoneComfort zone artinya wilayah aman, zona aman, dan wilayah ini paling diminati oleh semua orang. Mengapa demikian? Zona aman ini akan memberikan kenyamanan/ketenangan pada manusia karena bebas dari apa yang disebut conflict zone atau zona konflik. Benarkah demikian? Jawabnya tidak selamanya benar, karena kehidupan yang dilalui oleh manusia itu sesungguhnya adalah satu problem (persoalan) dengan berbagai dinamikanya. Maka orang yang hanya mencari posisi aman saja sesungguhnya mereka telah mengingkari persoalan kehidupan yang silih berganti datang padanya. Jadi comfort zone itu harus diletakkan pada hasil perolehan sesuatu sesudah berusaha, sedang prosesnya tidak bisa menghindari conflict zone. Dan seandainya itu yang terjadi pun tidak ada yang menjamin bahwa comfort zone itu ada selamanya, dia pasti bergantian dengan conflict zone. Tugas kita adalah bagaimana mengelola conflict zone tersebut supaya bisa menghasilkan comfort zone dan terhindari conflict zone (zona ricuh).

Manusia, pada prinsipnya mempunyai potensi beragam termasuk potensi untuk mengelola berbagai persoalan kehidupan untuk mendapatkan kebaikan hidupnya. Sehingga dibutuhkan kecerdasan untuk mengelola semuanya itu demi memperoleh ketenangan, kenyamanan baik jangka pendek (short term), jangka menengah (middle term), maupun jangka panjang (long term). Persoalan kemudian adalah bahwa mengelola conflict zone untuk mendapatkan comfort zone itu tidak semua orang bisa. Ini karena pengaruh kematangan berfikir, pengalaman, dan kultur yang mengitarinya. Oleh karenanya, tingkat pengendalian dalam mengelola hal-hal tersebut bisa jadi berakibat sebaliknya seperti kata orang maunya aman malah tidak, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa sesuatu nyaman bisa berubah menjadi tidak nyaman kalau cara mengelolanya salah, demikian pula sebaliknya.

Dalam realitas sosial comfort zone ini sering memperlihatkan wajah ganda pada manusia selaku pemiliknya. Di satu sisi terkesan bahwa orang tersebut hidupnya nyaman, aman, sejahtera, bahagia dan lain sebagainya. Tetapi pada sisi lain juga tampak kesan ketidaknyamanan sehingga sejatinya di dalam comfort zone itu ada conflict zone, kalau saja manusia kehilangan tingkat kewaspadaannya terhadap kenyamanan itu sendiri. Bahkan bukan mustahil conflict zone bergerak perlahan tapi pasti untuk menguasai comfort zone. Maka disitulah terjadi apa yang dosebut dengan “menuai badai” dalam berpirau menjelajahi lautan kehidupan. Fakta telah menunjukkan betapa banyaknya manusia yang telah menangisi jalan hidup mereka sembari memperlihatkan raut muka yang putus asa. Akan tetapi juga ditemukan tidak sedikit manusia yang menikmati bahkan tersenyum menghadapi musibah.

Comfort zone harus dimaknai sebagai rasa nyaman dalam ketidaknyamanan atau waspada dalam kenyamanan sehingga membuat manusia bisa melakukan “muhasabah” (menghitung diri) dalam konteks yang berkaitan penampakan tingkah laku. Kalau pemahaman seperti ini, maka tidak diragukan lagi bahwa sesorang tidak akan mau berbuat apa saja yang dikehendaki. Perbuatan mereka terukur dan tercermin dalam satu aktivitas terhadap sesama yang dijiwai dengan budi pekerti yang mulia. Maka orang-orang seperti ini lebih bisa diterima di masyarakat ketimbang mereka yang tidak terukur dalam sepak terjangnya. Itulah makna comfort zone dalam kehidupan manusia dan kemanusiaan. Yang tidak sesuai dengan etika adalah orang dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh comfort zone. Orang seperti ini biasanya meniru kodok berenang dalam kolam, kebawah menginjak, kesamping menyikut, dan keatas menjilat. Atau dengan pengertian lain, demi kenyamanan maka harga dirinya pun turut tergadai atau terjual dengan murah. Maka zona aman bagi manusia harus dipahami sebagai satu rasa yang bisa berubah pada rasa lain jika kita tidak pandai mengelolanya. Yang jelas jangan pernah merasa aman kalau belum menunjukkan bukti bahwa kitalah yang paling berhak menempati zona aman. Perhatikanlah firman Allah : “ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran : 142). Bacalah ayat tersebut kemudian fahami benar-benar maksud dari petunjuk ayat ini, lalu rasakan dalam hati kita msing-masing apakah kita telah berada dalam comfort zone atau belum? Jawabannya adalah kita yang paling tahu dimana kita berada, comfort zone atau conflict zone. Yang kelas menjadi pemimpin jangan pernah bermimpi untuk memperoleh comfort zone, karena salah satu dari watak pemimpin yang benar adalah “risktaker” berani mengambil resiko untuk kebaikan bersama (umat). Mereka itulah pemimpin yang sebenarnya, bukan pemimpin yang mencari zona aman, alias safety player yang suka menjilat sana-sini untuk kepentingan dirinya sendiri dengan mengorbankan orang lain. Karena sejatinya pemimpin yang baik itu ialah mereka yang bersedia memotong kenyamanannya sendiri untuk membahagiakan orang lain.

Artikel

No Comments to “COMFORT ZONE ?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*