Home » Artikel » TERGANTUNG KITA ?

TERGANTUNG KITA ?

images (20)aManusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang diberikan kebebasan untuk memilih dan berbuat. Memilih menjadi orang beriman dan bertaqwa atau menjadi orang-orang kafir yang kufur itupun tergantung kita? Memilih menjadi orang-orang suka syukur atau suka kufur itupun juga tergantung kita. Tidak hanya itu saja, melainkan dalam urusan akhiratpun ada kebebasan memilih, yaitu memilih jalan ke surga ataukah memilih jalan ke neraka semuanya tergantung kita? Bahkan dalam urusan kemanusiaanpun kita bebas memilih menjadi manusia beradab atau tidak. Yang jelas pilihan-pilihan itu semuanya mempunyai konsekuensi logis yang tidak mungkin kita hindari. Maka dalam rangka menentukan pilihan-pilihan tersebut datanglah Agama membawa petunjuk memberi bimbingan agar manusia dapat memilih yang baik dari buruk dan keluar dari jalan kesesatan menuju petunjuk berupa kebenaran. Sehingga orang yang beragama secara benar itu pasti selalu berada dengan pilihan itu. Demikian pula bila beragama sekedar topeng, maka sangat sulit mendeteksi pilihan itu secara tepat sehingga dari itu mereka pun merasakan akibatnya.

Beriman dan beramal shalih adalah satu pilihan yang benar dan tepat sesuai dengan Sang Pencipta (baca QS. Adzariyat : 56), “maka sesungguhnya pilihan mereka (mukmin) adalah menjadi manusia muttaqien dalam arti seluas-luasnya”. Ketika pilihan itu telah menjadi watak orang mukmin, maka sejatinya harus menyediakan diri untuk tidak terjun bebas sebagaimana orang-orang kafir. Karena selain itu sebagai konsekuensi logis, juga menjadi persyaratan utama untuk memperoleh kebahagiaan sebagaimana dambaan kita.

Memang, di dalam hidup ini seringkali kita diperlihatkan berbagai pilihan-pilihnan sulit yang membuat kita harus berfikir panjang untuk menetapkan pilihan tersebut. Tetapi akan sangat konyol dan membahayakan bila sama-sama sulit memilih kita masih mau memilih kesulitan yang menyesatkan kita, padahal di depan kita ada kebaikan tidak mendapatkan itu? Kita boleh berbeda menjawabnya karena tergantung kita melihatnya, tetapi yang jelas perintah, larangan dalam agama itu terkandung maksud membebaskan kita dari jurang kesesatan menuju pada petunjuk kebenaran. Hal tersebut tidak bisa kita pungkiri, kecuali bersedia memilih jalan di luar kebenaran dengan menerima resikonya. Maka persoalan surga dan neraka, benar dan salah, adil dan dzalim, ma’ruf dan munkar itu bukan lagi menjadi opsi bebas bagi mukmin yang muttaqien, kecuali menjadi pilihan terikat. Artinya pilihan tersebut disadari untuk pilihan pada yang membahagiakan bukan pilihan yang menyesatkan. Kalau tidak, maka tidak ada bedanya dengan orang-orang tidak beragama yang selalu terjun bebas dalam menentukan pilihan mereka. Oleh karena itu, menjadi orang beriman/beragama harus tampil beda yaitu, menjatuhkan pilihannya yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan/petunjuk agama. Itu bukan saja sekedar berbeda, tapi juga suatu kemuliaan yang teramat mahal harganya dan tidak ditebus dengan apapun dan berapapun. Disinilah iman dan agama sebagai petunjuk, pembeda perekat kesalihan pribadi dan kesalihan sosial dalam dungkai bingkai, yaitu Ketuhanan dan Kemanusiaan sehingga perjalanan hidup orang beriman harus ada keberanian etis memilih yang benar (haq) dan menyingkirkan yang salah (bathil) dan menjadikan semua yang haq itu sebagai bagian yang terintegrasi dalam perilaku. Dengan demikian maka sebagai mukmin, kita mendapat pertolongan Yang Maha Kuasa sesuai dengan janji-Nya, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat” (QS. Al-Haj : 38). Arti tersurat ayat ini jelas sekali, yaitu keberpihakan Allah pada orang-orang mukmin sebagai bukti penghargaan kepatuhan kita kepada-Nya. Maka menyebut perkataan tergantung kita harus dipertanyakan penempatannya apakah terukur dengan agama atau sekedar menuruti hawa nafsu sesat. Kita harus percaya dengan keyakinan prima bahwa pilihan kita pada yang baik itu sesungguhnya itu datang dari Allah, dan pilihan kita pada yang buruk itu semata dari diri kita sendiri. Ini sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa : 79 yang intinya bahwa yang baik itu datang dari Allah, dan yang jelek datang dari diri sendiri. Maka marilah kita menggantungkan diri kita hanya pada yang baik-baik saja, biar terhindari dari musibah yang bakal menimpa kita.

Artikel , , , , ,

No Comments to “TERGANTUNG KITA ?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*