Home » Artikel » MENIKMATI UJIAN

MENIKMATI UJIAN

unduhanPara Shufi sering memberi nasihat pada kita didalam merespon kehidupan dunia agar kita tetap hidup sehat, nikmat dan membahagiakan. Diantaranya pesan mereka adalah :”Jika anda ingin hidup sehat, maka gunakan perasaan untuk mensyukuri nikmat Allah dan menikmati ujianNya”.Pesan ini terkandung maksud bahwa nikmat tidak selamanya memberikan kebahagiaan,, dan ujian atau musibah pun tidak selamanya memberikan penderitaan. Boleh jadi nikmat membawa malapetaka dan bisa jadi sengsara membawa nikmat.

Kita dalam realitas sosial sering menemukan kejadian-kejadian yang terkadang tidak bisa dinalar. Seperti orang yang selalu sukses, beruntung, dalam pikiran kita merekalah yang paling berbahagia. Tenyata logika itu tidak selamanya sesuai atau benar dalam kenyataan, karena fakta dilapangan telah menunjukkan bukti bahwa banyak orang yang jatuh tertimpa tangga setelah sukses. Demikian pula kita juga tidak menyangka bahwa banyak orang sadar menjadi orang baik sesudah mendapat musibah/ujian. Ini artinya bahwa baik nikmat maupun ujian masing-masing ada pelajaran dan hikmah tersendiri bagi kita, sehingga diperlukan kecerdasan intelektual dan ketajaman perasaan untuk meresponnya. Tanpa hal tersebut, maka hidup ini bisa menjadi neraka dunia yang terus membakar kita tanpa henti, sebelum merasakan neraka yang sebenarnya. Alhasil, Nikmat disyukuri, ujian dinikmati, itulah jalan yang terbaik, untuk kita merespon setiap apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Adapun mensyukuri nikmat juga terkandung maksud selain mengaku keAgungan Sang Khalik pemberi nikmat, menaati petunjukNya, memanfaatkan nikmat sesuai dengan pesanNya, juga mewaspadai kesenangan dalam kesuksesan. Demikian juga menikmati ujianNya mempunyai makna : Sabar menerima cobaanNya, berusaha keluar dari ujian itu secara benar dan juga memetik hikmahnya untuk kemudian mengambil pelajaran untuk kebaikan paskah ujian tersebut. Atau dengan pengertian lain : Jangan mau masuk jurang untuk kedua kali dan seterusnya, atau jangan pernah bersahabat lagi dengan musibah yang pernah terjadi.

Kita jangan sampai menjadi orang-orang yang setengah hati berbakti pada yang memberi nikmat (Allah SWT). Karena perbuatan setengah hati seperti ini tidak akan memberi kebahagiaan kecuali menjadi orang yang selalu merugi. Adapun tanda-tanda orang setengah hati itu apabila mendapat nikmat selalu tenang dan bahagia bahkan bersenang-senang. Tetapi bila memperoleh musibah / ujian maka berubah sikapnya merespon musibah tersebut, bahkan menuding, menuduh Yang Kuasa berbuat zalim padanya. Sikap-sikap yang demikian ini pasti membawa kerugian besar buat kita, yaitu merugi di dunia maupun di akhirat. Perhatikan Firman Allah “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada (ditepi, alias tidak dengan penuh keyaqinan), maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa satu bencana berbaliklah ia kebelakang, alias kafir lagi. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Demikian itu adalah kerugian yang nyata “QS.Al-Hajj:11) Kalau saja kita bisa mempelajari dan menghayati petunjuk dalam tersebut, maka tentu kita harus banyak bertobat padaNya, karena selama ini kita merasa paling bahagia sendiri ketika memperoleh nikmat, dan suka seperti orang yang kebakaran jenggot kalau mendapat musibah. Maka seharusnya yang kita lakukan adalah : mensyukuri nikmatNya dan menikmati ujianNya. Itulah jalan yang paling benar untuk memperoleh kebahagiaan  hakiki dariNya, dan inilah salah satu harapan do’a kita dalam kalimat : Ihdina al-shirat al-mustaqim (baca Ihdinsshiratal mustaqim).

Jadi nikmat maupun musibah ke dua-duanya adalah baik dan membahagiakan karena tidak ada yang salah dari Sang Khalik pencipta alam semesta. Maka, merasa duka ketika memeperoleh nikmat, merasa suka disaat mendapat ujian itu adalah pintu-pintu bahagia yang perlu kita dapatkan. Kita jangan seperti orang yang memasang jurus mabuk, ketika memperoleh nikmat bersenang ria melampaui batas tetapi mendapat ujian lalu putus asa dan bunuh diri atau berbuat zalim pada sesama. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak menggunakan jurus mabuk tersebut dalam menerima setiap kejadian, dan semoga pula kita tergolong orang yang beruntung memperoleh nikmat dan ujianNya. Karenanya hati perlu bicara dan akal sesekali mengalah untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Jadi Nikmat disyukuri, Ujian dinikmati. Itu cara hidup yang paling sehat. Semoga !

 

Artikel , ,

No Comments to “MENIKMATI UJIAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*