Home » Uncategorized » DIA, BUKAN SEPERTI KITA

DIA, BUKAN SEPERTI KITA

images (4)Suatu hari saya berdialog dengan orang terdekat saya beberapa masalah penting dalam kehidupan ini, lalu dari lisannya yang tulus tercetus kalimat “Dia, bukan seperti kita, dan saya pun tersentak menulis dengan judul tersebut dalam satu analisah singkat seperti tergambar di bawah ini.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling misteri. Disebut demikian (misteri) karena mempunyai potensi diri yang sulit ditebak kemana potensi itu diarahkan/dimanfaatkan. Kita sering kali menemukan keberadaan manusia sebagai makhluk yang paling misteri dalam kehidupan kita, sehingga membuat kita bisa kagum, bisa getun, bisa kaget. Kita kagum, karena semula kita menduga sepertinya akan mempersulit persoalan yang kita hadapi, tapi ternyata memperoleh kemudahan darinya. Kita getun, karena semula berfikir akan diangkat, tetapi kenyataannya malah diinjak, dan kita kaget karena berjanji membela, malah menokok. Karenanya bisa difahami jargon-jargon : “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah; kalau bisa diinjak, mengapa diangkat; kalau bisa dibenci, mengapa dicintai” dan lain sebagainya. Kenyataan seperti ini telah menjadi tuntunan dan tontonan dalam kehidupan kita, sehingga harus menghela napas panjang, mengelus dada untuk mau dan bisa menerima keadaan tersebut.

Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, seperti apakah keadaan itu merupakan ujian atau balas dendam dari sebuah perjalanan hidup yang pernah dialami mereka (makhluk misteri itu)? Jawaban kita maybe yes, or maybe no sementara didepan kita sikap hidup yang paling terpuji kalau kita dan mereka bisa melakukannya. Sikap terpuji itu adalah : tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa (ta a’wu ala albirri) dan jangan saling menolong dalam hal dosa dan permusuhan (wala ta a’wanu a’la al istmi wa al u’dwan) (baca QS. Al-Maidah : 2). Sehingga sikap ini dapat merubah jargon-jargon positif, mulia diantaranya “Kalau bisa kita permudah, mengapa dipersulit; kalau bisa menolong, mengapa menggulung; kalau kita bisa memuliakan, mengapa menista” dan lain sebagainya. Akan tetapi berbuat seperti tersebut juga tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena disana ada nafsu amarah yang cenderung memilih jalan yang buruk daripada yang baik. Atau orang mengenalnya dengan angkara murka yang bisa merubah kebaikan menjadi buruk, mulia menjadi hina, benar menjadi salah dan sebagainya.

Kita dan mereka, atau dia dan kita harus sadar bahwa kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun pasti ada balasannya, demikian pula keburukan yang kita lakukan sekecil apapun pasti ada balasannya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT : “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, dia akan melihat (balasannya) pula (QS. Az-Zalzalah : 7-8). Ayat tersebut merupakan salah satu dari petunjuk Yang Maha Kuasa untuk menuntun hidup kita agar selalu berada di jalan yang benar, meraih dan menggapai nikmat kehidupan ini dengan cara-cara yang benar pula. Atau dalam pengertian lain : jangan pernah mengaharap menuai berkah kalau pernah menanam keburukan, atau percayalah berkah pasti datang karena kita sudah menanam kebaikan. Disinilah kata orang bijak : “Siapa menanam, dia menuai dan seperti apa hasilnya, ya seperti apa yang ditanam itu, atau dengan semboyan : buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Oleh karena itu konsep Ta’awun (saling tolong menolong dalam kebalikan) dan bukan sebaliknya itu terkandung maksud yang beramat mulia, yaitu membuat kita menjadi orang baik sehingga bisa menikmati hasil kebaikan kita untuk selamanya. Disinilah kecerdasan intelektual dan beningnya hati nurani menjadi taruhannya untuk mendapatkan semua kebaikan tersebut yang pada gilirannya membuat kita mulia dari yang lain. Karena itu pula kata orang bijak : otak boleh panas, tapi hati harus dingin; akal boleh memusuhi, tapi hati harus selalu mendamaikan, nafsu boleh membenci tapi nurani harus selalu mencintai. Inilah sinyal-sinyal petunjuk untuk mendekatkan kita dengan dia, karena dia bukan seperti kita. Boleh jadi yang kita maksudkan baik tetapi bisa salah, atau bukan mustahil, kebaikan yang kita bisa dipahami sebagai keburukan oleh dia. Jadi, dia bukan seperti kita bukanlah suatu yang fiktif tetapi fakta , dan sangat diperlu baik sangka (husn al dzan) bukan berburuk sangka (su al dzan). Semoga kita bisa seperti itu. Ya Allah berilah kami petunjuk dan kesabaran untuk menjalani hidup ini, dan jadikan kami semuanya sebagai hamba-hamba yang memperoleh ridho-Mu serta jauh dari murka-Mu.

Uncategorized ,

No Comments to “DIA, BUKAN SEPERTI KITA”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*