Home » Artikel » BERSYUKUR

BERSYUKUR

13471727871470745585Kata-kata syukur didalam Al-qur’an ditemukan enam puluh empat kali dengan berbagai bentuknya. Oleh Ahmad Ibnu Faris dalam kitabnya Maqayis Al-Lughah diartikan sebagai pujian karena ada kebaikan diperoleh. Dalam perjalannya kata syukur menjadi sebutan keseharian kita yang paling akrab. Misalnya kita sering berkata : syukur anda lolos dari bencana, syukur putra anda naik kelas, syukur anda bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan dokter, syukur anda mendapatkan istri yang setia dan amanah, syukur anda menjadi orang yang beruntung, syukur anda masih mau menolong sesama, syukur mendapat kepercayaan dari atasan anda, syukur anda lebih sehat hari ini dari pada hari sebelumnya, syukur anda bisa tersenyum menerima cobaan, syukur anda ridha terhadap takdirNya, syukur tidak membenci orang yang pernah melukai anda, syukur anda bisa memaafkan orang yang menzalimi anda, syukur anda bisa berubah menjadi orang lebih baik. Pokoknya berbilang kata syukur turut serta menghiasi bibir ketika berkomunikasi dengan sesama Alhasil syukur telah menjadi teman setia kita menyapa dalam suka maupun duka, kapan dan dimanapun kita berada.

Satu masalah prinsip dalam kaitan dengan syukur tersebut adalah : sadarkah kita mengucapkan kata syukur itu dalam arti mengakui keagungan dan kasih sayang pada Sang Khaliq pemberi nikmat itu ?, atau sekedar basa-basi bahasa pergaulan antar sesama untuk mendpat pengakuan orang lain pada kita? Alhamdulillah kita sadar mengucap kata syukur dengan mengakui keberadaanNya, mentaati petunjukNya, dan memenfaatkan nikmatnNya secra benar sesuai dengan kehendakNya. Hanya saja berapa banyak manusia yang bisa merefleksi kata syukur dalam kehidupannya seperti itu? Harus diakui sejujurnya bahwa orang yang mau bersyukur dengan umurnya, rizkinya, jabatannya, dan semua fasilitas yang diperoleh tidak banyak alias hanya sedikit sekali. Inilah sebabnya Allah SWT mempertanyakan dengan redaksi yang sama dan berulang sampai 31 kali dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? (Fabiayyi aalaairobbikuma tukadzziban) Pertanyaan yang berulang 31 kali itu bukan tanpa makna , melainkan memiliki alasan yang tidak bisa terbantahkan dalam realitas sosialnya. Yaitu kalau diamati secara jujur tentang perilaku manusia dimuka bumi ini maka ditemukan lebih banyak manusia yang kufur nikmat ketimbang manusia yang syukur nikmat. Atau dengan pengertian lain bahwa banyak diantara manusia dimuka bumi ini hanya mendapatkan nikmat yang tidak terhingga dari Sang Khaliq, tidak banyak yang pandai mensyukuri nikmat tersebut, dan itulah yang dimaksudkan dalam firmanNya “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur “ (QS:Yusuf 38), demikian juga : “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur” (QS:Saba 13). Ini semua menunjukkan bahwa telah terjadi anomali secara sitemik dan masif perilaku manusia terhadap nikmat pemberian Yang Maha Kuasa.Yaitu: Beramai-ramai, bahkan berbondong-bondong mengingkari nikmat Tuhan dan hanya sedikit sekali yang mensyukurinya.Keadaan seperti ini tidak pernah berubah sejak dahulu kala hingga sekarang, bahkan tingkatan mengkufuri nikmat Tuhan semakin bertambah baik kuantitatif maupun kwalitatifnya. Sungguh ini merupakan tren hidup manusia global dan modern sehingga hal seperti tetap dipandang sebagai bahaya laten dan itu lebih berbahaya virus HIV,Mars, Ebola, Flu burung dan lain sebagainya. Disebut lebih berbahaya dari itu semua karena Allah SWT pasti menurunkan azab yang sangat hina bagi mereka yang mengkufuri nikmatNya. Perhatikan Firman Allah : “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memakalumkan, jika sesungguhnya kamu bersyukur , pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azaku sangat pedih” (QS Ibrahim :7). Persoalan kita adalah : pernahkah kita sadar dengan kebenaran ayat diatas ataukah kita malah menganggap remeh dengan peringatan ayat tersebut ? Padahal kenyataan dimana-mana telah terjadi azab Tuhan yang begitu mengerikan karena juga mengorbankan orang-orang shalih alias mereka yang mensyukuri nikmatNya. Beruntung sekali Allah SWT lebih banyak menampakkan Rahman dan RahimNya kepada kita dari pada murkaNya, sehingga kita masih sempat senyum bahkn tertawa terbahak-bahak menikmati pemberian Tuhan tanpa merasa berdosa kalau tidak mensyukurinya, Na’udzubillahi minzalik. (Kita berlindung dari itu).

 

Artikel

No Comments to “BERSYUKUR”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*