Home » Artikel » MANUSIA FITRAH

MANUSIA FITRAH

Zakat-Fitrah-Penyempurna-Puasa-RamadhanRamadhan telah usai, manusia Muttaqien yang lahir dari rahim ramadhan bergegas kembali kefitrahnya (Idul Fitri). Tempaan dalam bulan ramadhan berupa puasa, qiyamul lail, tadarus, infaq, zakat dan I’tikaf boleh dibilang sarana yang paling potensial membentuk manusia fitrah. Hanya saja sarana-sarana tersebut masih terus berlanjut pada bulan-bulan di luar Ramadhan atau berhenti hanya untuk Ramadhan saja.

Memang ada banyak persoalan yang menghadang kita di tikungan sosial yang membahayakan. Dan rasanya hadangan tersebut sepertinya sangat komplek, mulai dari persoalan ritual sampai pada persoalan sosial. Kita berharap bahwa sholat berjamaah, qiyamul lail dan tadarrus Al-Qur’an, puasa sunnah dan kegiatan ritual lainnya bisa dipertahankan seoptimal mungkin di luar bulan Ramadhan. Demikian persoalan sosial seperti silaturahim antar sesama melalui gerakan berbuka puasa bersama, menyantuni kaum dhuafa’, memperbanyak infaq dan sadhaqah bisa diteruskan kendatipun ramadhan telah usai. Jika harapan-harapan tersebut dapat terealisir maka keberadaan diri kita sebagai manusia fitrah pasti tetap terjaga adanya. Dan, bila tidak maka kita akan kembali mencederai kefitrahan diri kita dengan berbagai perilaku fujur (dosa) yang terjadi dalam masyarakat.

Konon bahwa negeri Indonesia ini paling dekat dengan neraka ketimbang surga karena barang maksiat di negeri ini nyaris tersedia secara sempurna. Mau maksiat kelas teri sampai kelas ikan paus semuanya tersedia tinggal menyediakan biayanya. Sehingga ada seloroh bahwa setan dan iblis di Indonesia sudah tidak berdaya menggoda manusia, bahwa para setan dan iblis malah takut kalau tergoda oleh manusia. Sehingga selepas ramadhan mereka meminta pada Tuhan untuk terus dibelenggu selamanya karena takut tergoda manusia. Kalau cerita ini benar, maka musuh kita di abad modern ini sudah beralih dari bangsa setan/iblis ke bangsa manusia dan itu sama bahayanya buat mereka yang mau mempertahankan kesucian dirinya selepas Ramadhan. Yang jelas, selepas ramadhan kita sedang menghadapi musuh-musuh baru yang perlu kita lawan dengan meningkatkan kualitas ritual dan sosial secara terus menerus . Maka baik setan /iblis maupun manusia yang telah menjadi  setan  akan tertangkal adanya sehingga kefitrahan kita tetap terjaga. Persoalannya adalah mampukah kita berkawan dengan orang shalih dan hal-hal yang baik atau sebaliknya. Itu menjadi satu pertarungan besar yang menentukan fitrah tidaknya diri kita setelah ramadhan usai. Manusia muttaqien sebagai hasil pembentukan ramadhan harus bisa berpirau melawan godaan-godaan tersebut sehingga bisa berlabuh di pantai harapan menjadi manusia muttaqien yang sesungguhnya. Caranya adalah “bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan janganlah mati sebelum menjadi muslim yang berserah diri pada-Nya” (QS. Ali Imran : 102). Atau dalam istilah sederhananya adalah manusia muttaqien itu ialah mereka yang menjaga diri dari apa-apa yang dimurkai Allah, tidak menganiaya diri sendiri dan tidak pula merugikan atau menganiaya terhadap sesama. Harapan ini tentunya terasa ideal sekali, tetapi sesungguhnya bisa diimplementasikan kalau kita mau mengimplementasikannya. Sebab suatu kebaikan bisa menjadi mudah dan ringan kalau kita mau melakukannya, demikian pula sebaliknya.  Demikian juga perkara dosa dan maksiat lainnya akan terasa ringan dan mudah jika ada kemauan untuk meninggalkannya, demikian pula sebaliknya. Maka tugas kita sebagai manusia muttaqien selepas ramadhan ini adalah bagaimana menjaga keberadaan diri kita sebagai manusia fitrah.

Taqabbalallahu minna waminkum, mohon maaf lahir batin.

Artikel ,

No Comments to “MANUSIA FITRAH”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*