Home » Artikel » TIKUNGAN SOSIAL, Membahayakan?

TIKUNGAN SOSIAL, Membahayakan?

22102013104413polisi-kaleraPerjalanan hidup kita didunia ini ternyata tidak selamanya lurus, tetapi juga bisa berbelok tergantung manusia merespon hegemoni dunia. Kalau kita menjadi tuan atas dunia bersama isi dan dinamikanya, maka kita bisa menaklukkan untuk kepentingan yang baik dan bermanfaat (al maslahah). Bila dunia bersama hegemoninya memperbudak kita, maka akan menjadi tumbal-tumbal dunia. Dan realitasnya telah terdapat  banyak manusia yang menjadi tumbalnya karena perbuatan destruktif (mafsadat) mereka.

Ternyata didunia ini ada jalan menuju surga, tetapi juga banyak jalan menuju neraka, dan satu diantaranya adalah jalan pada tikungan sosial yang membahayakan. Ditikungan sosial itu terdapat jebakan-jebakan yang menjerat manusia pada zona bahaya. Dan sepertinya manusia kehilangan akal sehatnya untuk menyelamatkan dirinya pada zona tersebut. Manusia pada zona aman selalu berfikir ideal dan mencita-citakan sesuatu seperti masuk akal. Ketika persoalan dunia nyata menghampirinya, pemikiran ideal tersebut mulai mengalami perubahan bahkan berganti dengan menuruti apa maunya kehidupan dunia itu. Perlahan tapi pasti manusia terbawa ke tikungan sosial yang menyediakan berbagai tragedi dan penderitaan yang membahayakan. Saat itu rasa prihatin dan gigit jari menjadi simbul bisu ungkapan protes kenapa bisa terjadi seperti itu. Bak kata orang bagaikan nasi telah menjadi bubur, selamat telah menjadi celaka, bahagia menjadi derita, dan sebagainya. Mau mencari kambing hitam? Rasanya juga tidak etis, apalagi menimpakan kesalahan pada orang yang tidak berdosa, tentunya sangat tidak etis karena kezaliman kita. Lebih baik jujur mengaku salah dan dosa ketimbang mengorbankan orang lain yang tidak berdosa. Itu lebih mulia dan lebih bermartabat kendatipun orang lain memandang miring. Biarkan mereka menilai seperti apa menurut keinginan masing-masing, yang penting kita telah jujur pada diri sendiri dan jujur mengaku kesalahan biar tidak menimpakan malapetaka pada orang lain. Ini menjadi sangat penting karena menyangkut keberadaan diri hari ini dan akan datang dalam prespektif bermasyarakat. Dan pada umumnya, masyarakat menganggap orang bersalah yang jujur itu lebih baik daripada sudah bersalah tapi tidak mau mengaku kesalahannya. Kejujuran ini penting untuk membangun kepercayaan (trust) baru pada masyarakat.

Memang tikungan sosial yang membahayakan itu selalu ada tiga godaan atau ujian, yaitu harta, kekuasaan dan wanita. Banyak orang lolos dari tikungan sosial yang membahayakan itu, tetapi juga tidak sedikit yang menjadi korban ditikungan tersebut. Sehingga berhati-hati melewati tikungan itu menjadi persyaratan utama bagi keselamatan kita. Sebab tanpa itu kita terus dan akan menjadi tumbal tikungan yang membahayakan itu. Maka, menyadari kenyataan bahaya yang telah terjadi pada tikungan itu harus menjadi inspirasi sekaligus mawas diri dari bahaya-bahaya baru yang akan terjadi seperti apa yang dititahkan oleh Ki Djoyoboyo pada beberapa abad lampau dan masih sangat relevan pada abad ini dan akan datang. Kata-kata bijak beliau: “Zaman saiki zaman edan, sopo ora melu edan ga bakal keduman”. Rangkaian kalimat bijak tersebut masih terasa signifikan dan relevansinya dengan sejumlah kenyataan sosial yang membahayakan kita ditikungan itu karena ikut gila ketika melewati tikungan itu, dan karenanya lanjut beliau: “sa bejo-bejone menungso, luweh bejo wong sing eling lan waspodho”. Disinilah pesan moral untuk berhati-hati melewati jalan kehidupan didunia menjadi rambu-rambu yang perlu mendapat perhatian kita semuanya agar selamat dunia akhirat. Maka disini pula berdoa untuk keselamatan kita menjadi sangat penting untuk menjadi bagian penting dalam prilaku dan amal kita sebagaimana diajarkan dalam al-Qur’an “Dan diantara mereka ada orang yang berdo’a Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan perihalah kami dari siksa api neraka” (QS: al-Baqarah: 201). Do’a ini oleh local wisdom disebut sebagai “sapu jagat” artinya simpel atau sederhana tapi mencakup seluruh kepentingan / kebutuhan manusia. Maka untuk menghindarkan diri dari bencana ditikungan sosial itu kita perlu banyak berdoa sebagaimana tersebut diatas, dan maqam-maqam mustajabah seperti sholat dan puasa bahkan juga haji itu adalah tempat-tempat untuk berdoa yang dijawab Allah.

Artikel

No Comments to “TIKUNGAN SOSIAL, Membahayakan?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*