Home » Artikel » Permissive Society

Permissive Society

imagesPermissive Society atau masyarakat permisif adalah masyarakat yang telah terkontaminasi pemikiran untuk memaklumi prilaku menyimpang dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, padahal dari sudut pandang etika, apalagi agama termasuk perbuatan terlarang. Pemikiran seperti ini lantas dalam perjalanannya mereka bisa bertoleransi dengan perbuatan-perbuatan terlarang. Ironis tetapi nyata dalam kehidupan masyarakat beragama yang seharusnya tidak boleh terjadi. Yang berbahaya dari itu adalah lahir hukum-hukum baru seperti dalam perspektif budaya primitif “nopo-nopo kemawon kerso” sehingga nilai-nilai sakral dalam agama terabaikan.

Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya keadaan suatu masyarakat bila nilai-nilai agama terabaikan alias dilanggar dengan sengaja. Maka nyaris dipastikan bahwa masyarakat tersebut terjadi perbuatan menghalalkan segala cara mencapai tujuan. Sehingga tatanan hidup dalam masyarakat menjadi amburadul, yang kuat memangsa yang lemah, kuasa menindas yang tidak berpunya sehingga manusia bagaikan serigala terhadap sesamanya (hukum rimba). Keadaan masyarakat seperti ini merupakan awal dari bencana kolektif yang menimpa mereka yang tidak salah/berdosa. Lantas apakah hal-hal ini harus ditolerir sebagai sesuatu yang dianggap lumrah/wajar? Tentu tidak, tetapi dari mana kita harus memulainya untuk melakukan sebuah perubahan yang bermakna bagi kebaikan bersama? Kita masih punya hati nurani tentu menjerit merasakan hal –hal tersebut terus terjadi didalam masyarakat. Sehingga konsekuensi logis jeritan seperti itu seharusnya kita bangkit dan berusaha untuk merubahnya. Tapi kenyataan masih terdapat banyak sekali masyarakat permisif. Itu artinya karena kita kurang peduli terhadap perubahan tersebut sehingga keadaan mereka semakin runyam. Memang potret masyarakat moderen terkenal maju dengan teknologinya, tetapi semakin tidak beradab dalam moralitas didepan publik. Kemajuan yang tidak beradab ini sejatinya kemajuan konyol yang telah mencederai martabat kemanusiaan semesta. Sehingga apapun alasannya, kita tidak boleh lagi bertoleransi dengannya. Artinya masing-masing kita baik pribadi maupun kolektif melakukan amar makruf, nahi munkar untuk mempersempit ruang geraknya, dan dalam pada itu kemanusiaan kita terselamatkan dari prilaku sesat tersebut. Disinilah faktor “keteladanan” menjadi kata kunci untuk sebuah perubahan yang humanis, dan itu harus dimulai dari atas yaitu pemimpin. Karena ada jargon yang mengatakan: al-nas a’la dini mulukihim”, bahwa manusia itu tergantung agama raja/pemimpinnya. Jika baik agamanya raja, maka rakyat pasti manut atau taat, jika rajanya/pemimpin rusak, maka akan lebih rusak masyarakatnya. Nah kita semuanya baik individual maupun kolektif juga sebagai pemimpin (khalifah). Sebagai pemimpin tentunya kita merasa terpanggil untuk merubah suatu keadaan sehingga menjadi lebih baik agar masyarakat menimati kebaikan tersebut. Kalau demikian sikap kita sebagai pemimpin, maka masyarakat terayomi dan tersejahterakan, dan orang yang paling banyak pahalanya dalam kontek ini adalah para pemimpin (khalifah), demikian pula sebaliknya.

Persoalan pokoknya adalah kita mau atau tidak memulai untuk melakukan perubahan tersebut. Saya berpendapat, kita harus mau dan memulainya untuk sebuah gerakan perubahan demi kebaikan bersama. Alasan saya adalah kita tidak diciptakan hanya untuk mencari kesalihan pribadi saja, tetapi juga mempunyai kewajiban berbuat untuk kesalihan sosial. Sehingga kalau ada pribadi manusia merasa hidup hanya untuk dirinya saja, itu juga sebuah penyimpangan yang dianggap lumrah alias masuk dalam daftar pengikut masyarakat permisif. Ingat hidup kita ini harus berada pada posisi hablum minallah untuk kesalihan pribadi, juga harus ada hablumminannas untuk kesalihan sosial (Qur’an surat Ali-Imran ayat : 112) karena itulah sejatinya hidup buat kita yang berpredikat sebagai khalifah. Jangan seperti kaum yang mengikuti faham individualistik, dan materialistik yang konyol hanya untuk dirinya saja. Itu bukan cara hidup orang beragama, melainkan prilaku hidup dari masyarakat permisif. Masyarakat yang beragama adalah mereka yang mengikuti petujuk-petunjuk agama menaati dan mengimplementasikan dalam kehidupan ril/nyata. Sehingga masyarakat permisif dapat terkikis, kalau tidak dikatakan berakhir. Hemat saya inilah tanggung jawab kita sebagai pemimpin untuk tidak perlu menunda melakukan gerakan perubahan masyarakat menuju yang lebih baik dan bermartabat.

Artikel

No Comments to “Permissive Society”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*