Home » Artikel » MARHABAN YA RAMADHAN

MARHABAN YA RAMADHAN

marhaban-ya-ramadhan-rambuMarhaban ya ramadhan, selamat datang wahai Ramadhan Selamat datang wahai bulan suci yang membawa berkah (Syahrun Mubarak). Bulan suci Ramadhan pasti datang setiap tahun, tapi tidak semua orang beriman betemu dengannya. Maka orang-orang beriman yang ditakdirkan untuk bertemu dengn bulan Ramadhan ini berarti itu adalah peluang emas dan kesempatan yang sangat berharga. Disebut peluang emas karena karena tersedianya waktu untuk orang beriman untuk mengoptimalkan pengabdiannya kepada Yang Maha Kuasa. Juga kesempatan sangat berharga karena ada perpanjangan waktu bagi orang yang beriman untuk membakar dosa, meraih kemuliaan sebagai manusia Muttaqin. Ini semuanya bila dikalkulasi secara materi, maka nyaris tidak artinya materi itu, karena harga spiritual jauh lebih mahal dari itu semua. Berapapun materi yang kita keluarkan untuk meraih kemuliaan kekayaan spiritual terutama pada bulan suci Ramadhan, spiritual masih lebih mahal dari itu semuanya. Disebut demikian karena Ramadhan yang dihiasi dengan Puasa, Qiyamullail, Tadarus Al-qur’an, Zakat dan malam-malam Qadar yang harganya lebih baik dari seribu bulan itu, nyaris keutamaannya menjadi sempurna dari seluruh kebaikan yang ada.

Ada dua gerakan besar dalam pusat putaran ramadhan yaitu, terjadinya revolusi ritual, dan revolusi sosial. Revolusi ritual dengan ibadah mahdhah seperti puasa, qiyamullail, tadarus, i’tikaf sepuluh hari terakhir pada malam-malam qadar, membuat kita menjadi saleh pribadi dalam simpul amal “Taqqrrub Ilallah” mendekatkan diri kepada Allah menjadi manusia Muttaqin. Semantara itu revolusi sosial dengan gerakan zakat, infaq, sedekah pada fakir miskin dan anak-anak yatim piatu membuat kita menjadi salih sosial. Maka lengkap sudahlah orang beriman dengan Ramadhan itu menjadi salih secara individual sekaligus salih secara kolektif. Disinilah berkahnya bualn suci Ramadhan dalam kepungan orang-orang beriman untuk menata diri sebagai manusia sufi dalam arti secra mikro, maupun makro dlam kehidupan ini. Oleh karenanya mengucapkan selamat datang wahai bulan Ramadhan (Marhaban Ya Ramadhan) mengandung makna sebagai upaya menyongsong bulan yang penuh berkah untuk kesemestaan umat, baik bagi orang beriman maupun sesama  manusia untuk mendapatkan berkah dan rahmatNya. Dengan demikian sejatinya manusia pada umumnya dan orang beriman pada khususnya adalah mereka yang berkepribadian shalih secara pribadi maupun sosial. Kepribadian manusia seperti inilah dibutuhkan oleh masyarakat di alam semesta ini dalam kaitannya membawa misi sebagai Khalifah dimuka bumi ini untuk memakmurkannya.

Berkaitan itu semuanya, satu hal yang tidak mungkin kita abaikan dalam kehidupan sebagai orang–orang beriman adalah berusaha sedekat-dekatnya dengan sang Khaliq melaui mediasi momen-momen penting seperti Ramadhan ini. Atau dengan pengertian lain momen Ramadhan seperti sekarang ini harus diupayakan optimalisasi fungsi dan peran kita sebagai Khalifah dalam membagi kebaikan terhadap sesama. Karena manusia Mutttaqin yang lahir dari rahim Ramadhan itu sejatinya adalah mereka yang berbuat baik untuk dirinya dan juga untuk sesamanya.

Ramadhan datang setiap tahun dengan membawa satu kemuliaan yaitu menjadi manusia muttaqin bagi yang sadar melakukannya. Tetapi boleh jadi berbeda rasa bagi yang sekedar menggugurkan kewajiban saja. Yang jelas bagi orang beriman panggilan Ramadhan adalah seruan untuk menjadi manusia mulia karena telah melakukan perbuatan-perbuatan mulia, ritual maupun sosial. Hanya saja kemuliaan itu tidak selamanya bertahan pada pribadi orang beriman karena pengaruh hegemoni atau kegemerlapan dunia. Bahkan tidak mustahil kemuliaan itu pada akhirnya tergantikan dengan kehinaan  dan kerendahan karena perbuatan manusia. Disinilah sebabnya mengapa manusia dan orang-orang beriman dituntut untuk patuh pada perintah dan mengabaikan yang dilarang agama? Perintah dan larangan ini dimaksudkan untuk menjaga martabat dan kemuliaan pribadi manusia dari sesuatu yang mencelakakan. Perhatian firman Allah dalam Al-qur’an surat Ali Imran  112, artinya “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”.

Pelajari ayat ini benar-benar, pahami secara mendalam kemudian lakukan petunjuknya. Maka Marhaban Ya Ramadhan dengan segala dinamika amaliyahnya mempunyai kaitan yang segnifikan untuk memposisikan manusia dan orang beriman pada posisi yang mulia. Selamat memasuki Ramadhan 1435 H dan menikmati seluruh amal shalih yang ada di dalamnya, semoga ibadah ramadhan kita mendapat ridha Allah SWT.

Artikel

No Comments to “MARHABAN YA RAMADHAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*