Home » Artikel » FITRI DALAM GEMPURAN

FITRI DALAM GEMPURAN

selamat-datdfdang-ramadhanPuasa atau shaum dalam bulan suci Ramadhan dengan tujuan akhirnya menbentuk manusia muttaqin (QS. Albaqarah : 183) Manusia muttaqin ialah mereka yang menjaga dirinya dari apa-apa yang dimurkai Allah SWT, tidak merugikan dirinya sendiri tidak pula merugikan orang lain. Tipe manusia seperti ini merupakan manusia yang keberadaannya menjadi rahmat bagi alam semesta sebagaimana kehadiran Islam sebagai Rahmatan Lila’lamin. Tentunya pribadi seperti ini memiliki kualifikasi khusus dalam mengamalkan ajaran agamanya : yaitu memadukan kuantitas sekaligus kualitas perilaku beragama. Karena beragama tidak lagi hanya sekedar perasaan takut , dan kalkulasi pahala , melainkan dilandasi dengan rasa cinta yang mendalam kepada sang Khaliqnya. Efek positifnya dalam jangka panjang adalah tetap terjaga kefitrahan pribadinya karena telah telah terjadi proses imunitas diri untuk menolak setiap godaan yang menyesatkan. Sehingga Ramadhan dengan  intensifikasi amaliah membentuk amaliyah fitri yang selalu berpihak pada kebaikan/kebenaran seraya menolak segala bentuk yang merusak.

Hari raya idhul fitri mengandung makna kembali pada fitri sesudah puasa dalam bulan ramadhan. Kefitrian orang mukmin pasti teruji dengan pengaruh kegemerlapan dunia. Akankah ketaqwaan itu tetap menjadi bagian dari orang mukmin ? Atau akan mengalami peluruhan, bahkan hilang tidak berbekas ? Jawabnya sangat bergantung pada pribadi orang beriman itu sendiri mau atau membiarkan ketaqwaannya pudar.  Disinilah perlunya “Taqwa” dan istiqomah (menjaga amal secara kontinyu) menjadi satu kesatuan paket sekaligus kado hari raya yang teramat berharga. Tanpa itu , maka seluruh amal shalih yang diraih dalam bulan ramadhan itu hanya tinggal nama tanpa bekas dan pasti mengancam keselamatan pribadi mukmin itu sendiri dalam hari-hari berikutnya.

Fitri dalam gempuran pada judul tulisan ini mengingatkan semua yang berpuasa bahwa : sesudah berpuasa kita harus ekstra hati-hati membawa dan menempatkan diri dalam putaran hidup sesudah Ramadhan. Sebab, ada sejumlah ranjau yang telah terpasang untuk menjerat dan menyeret kita kedalam kubangan kehidupan dunia. Ranjau-ranjau itu adalah : Kebebasan tanpa batas dalam memenuhi tuntutan syahwat yang tidak puas hasil capaiannya sendiri secara halal dan baik (Halallan Thaiyiban) Demikian juga ranjau yang bernama : “Mental Potong Kompas” tidak mau menghargai proses tetapi hanya mengandalkan hasil kendati illegal sekalipun. Ranjau-ranjau ini pasti akan ada dimana-mana dan siap menjadikan orang-orang mukmin sebagai mangsa. Mari kita lihat realitas sosial yang ada didepan mata, berapa banyak orang-orang beriman yang telah dihancurkan kehidupan mereka karena ranjau-ranjau tersebut ? Sehingga isi penjara boleh dibilang penuh sesak dengan sosok mukmin yang terkena ranjau. Akankah kita juga ingin menyusul mereka ataukah berbalik sadar untuk memfitrikan diri dalam format hidup sebagai muttaqin? Semuanya tergantung kita, dan tidak ada orang yang bisa merubahkita kecuali kita sendiri yang mau merubahnya menjadi pribadi yang fitri. Maka dengan demikian, apapun gempuran terhadap kefitrian kita, tidak akan berubah kecuali tetap mempertahankan dan meningkatkan kefitrian itu baik pada wilayah-wilayah ritual maupun wilayah sosial. Dan itu sesungguhnya merupakan pertahanan yang kuat menghadapi gempuran-gempuran tersebut dan kita kembali menjadi fitri lagi. Jadi puasa Ramadhan dengan dinamika amalnya harus menjdi tameng melindungi kita dari dahsyatnya gempuran gemerlapnya dunia. Kalimat kuncinya hanya satu “Jangan silau dengan kehidupan orang lain”, dan lakukanlah sesuatu yang terbaik untuk menjaga kefitrian kita. Maka puasa yang pernah kita lakukan harus bisa mempuasakan diri dari keinginan yang merusak, dan taqwa juga harus bisa mentaqwakan diri kita dari segala yang nista. Perhatikan Firman allah  : ”Hai orang-orang yang beriman , jika kamu mentaati orang-ornag kafir itu , niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran) lalu jadilah kamu orang –orang yang merugi “. (QS Ali Imran : 149).

Mari kita hayati petunjuk ayat ini tersebut dan ikuti apa maunya dari petunjuk ini, Insya Allah kita selamat dari ranjau-ranjau kehidupan ini.

Artikel

No Comments to “FITRI DALAM GEMPURAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*