Home » Artikel » Berhala Kekuasaan

Berhala Kekuasaan

images (1)Kekuasaan dalam arti yang sebenarnya adalah satu diantara amanat Allah kepada manusia untuk menjadi penguasa di muka bumi ini agar dengan nya (kekuasaan) itu seseorang dapat menciptakan kemaslahatan (kebaikan) ummat. Pengertian ini menundukkan penguasaa pada derajat yang mulia karena melaksanakan amanat Allah SWT. Demikian pula kemuliaan ini mereka miliki karena mereka juga enggan berkhianat terhadap amanat tersebut, kendatipun banyak rayuan menjadikan kekuasaan untuk segala-galanya. Ketika manusia sebagai penguasa menjalankan amanat kekuasaan sesuai dengan kemauan yang memberi kekuasaan (Allah SWT) maka sesungguhnya dia telah menjadi sufi kekuasaan atau penguasa yang sufi. Tapi menjadi penguasa yang sufi di zaman ini sudah termasuk manusia langka, kalau tidak dikatakan punah semuanya. Mencari prototipe penguasa seperti Umar bin Abdul Aziz di zaman ini nyaris tidak ada. Yang paling banyak penguasa model Qarun, Umar Bakrie, bahkan juga Fir’aun modern. Disebut demikian karena kekuasaan telah menjadi berhala bagi para penguasa yaitu dengan jalan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka para penguasa telah menjadikan kekuasaan sebagai berhala, yaitu membuat kekuatan baru sebagai tandingan dengan Tauhid yang hanya meng-Esa kan Tuhan.

Berhala kekuasaan adalah ber-Tuhan dengan kekuasaan yang bertumpu pada mengumbar syahwat jelek untuk mendapatkan kekuasaan, mempertahankan serta melanggengkan kekuasaan dengan cara menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Lihatlah betapa mereka melahap uang rakyat dalam kas negara hanya untuk kepentingan diri, keluarga maupun kepada kelompok pendukungnya ketika mereka berkuasa. Bahkan sebelumnya pun mereka (calon-calon penguasa) juga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Peristiwa-peristiwa penting dalam demokrasi, katakanlah pilkada, pileg, dan pilpres juga bukan barang tabu lagi bahwa jual beli suara, penggelembungan suara sudah dianggap barang biasa. Padahal perbuatan yang demikian itu tergolong dalam wilayah kedzaliman dan bersahabat dengan syirik sehingga penguasanya menjadi musyrik.

Ada pertentangan serius antara kekuasaan karena amanah Allah dengan kekuasaan sebagai satu pengkhianatan atas amanah tersebut. Artinya antara kemuliaan dan kedzaliman karena kekuasaan saling tarik menarik, ingin menguasai para penguasa. Ironisnya adalah penguasa kita yang mengaku berke-Tuhanan Yang Maha Esa pun berubah menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Sehingga memutar arah kiblatnya menjadi membelakangi Tuhan Yang Maha Esa dalam mencari kekuasaan mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan itu sebagai barang milik nenek moyang mereka. Dengan demikian maka berhala kekuasaan telah menundukkan mereka, bahkan mengatur cara hidup dan kekuasaan mereka hanya untuk memenuhi nafsu serakah dalam kehidupan mereka. Pertanyaan sederhananya adalah kenapa manusia mau dengan permainan berhala kekuasaan itu dan kenapa mereka berbondong-bondong memasukinya? Jawabannya sederhana saja, ialah selama manusia tidak menghambakan dirinya kepada yang memberi hidup (Allah SWT) maka selama itu pula dia akan diperbudak dunia dengan segala kesenangannya. Hidup mereka hanya bergantung pada materi semata dan uang buat mereka adalah untuk segala-galanya.

Memang masyarakat kita ini terdapat dua lapisan perolehannya. Pertama mereka yang perolehan materinya tanpa batas sehingga bingung menghabiskan barang perolehannya termasuk bingung menghabiskan uang. Mereka ini biasanya menggunakan perolehannya tanpa batas juga termasuk membeli dan membuat barang/hal-hal kemaksiatan. Sementara kelompok lapis masyarakat yang kedua adalah mereka yang bingung mendapatkan harta/uang. Biasanya lapis masyarakat seperti ini agak hati-hati mengunakan harta/uang di dalam kehidupannya. Sebab kalau mereka memperoleh materi/uang itupun dengan jalan susah payah sehingga pengeluaran pun terhitung dan terukur, dan karena semua terhitung sehingga beramal jariyah pun seadanya bahkan nyaris tidak ada. Jika kelompok masyarakat ini mendapat hadiah kekuasaan sebagai penguasa maka mereka tidak tanggung-tanggung melahap tanpa ampun uang rakyat dalam kas negara kecuali penguasa yang sufi. Inilah disebut OKBR (Orang Kaya Baru yang Rakus). Ternyata berhala kekuasaan ini benar-benar telah membuat manusia mengahmbakan diri padanya, sehingga perilaku kehidupan mereka hanyalah mengikuti apa maunya berhala itu. Tanpa malu sedikitpun manusia telah menggadaikan martabat kemuliaan dirinya untuk kepentingan berhala yang menyesatkan itu. Perhatikan firman Allah SWT, “ Maka pernahkan kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah mebiarkannya sesar berdasar ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka apakah yang memberi petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah : 23). Perhatikan betul-betul petunjuk ayat tersebut dan fahami secara baik kemudian ambillah pelajarannya untuk memproteksi diri kita terhadap berhala-berhala yang menyesatkan kita. Insyaalllah selamat dunia – akhirat.

Artikel

No Comments to “Berhala Kekuasaan”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*