Home » Artikel » POLITIK BERBAYAR ?

POLITIK BERBAYAR ?

imagesBerbicara tentang demokrasi politik di Negeri ini, bahkan nyaris mendunia tanpa uang tidak akan bisa berjalan. Karenanya pusat-pusat kekuasaan politik telah menjadi mesin pencetak uang walaupun secara ilegal. Begitu pula partai-partai politik juga tidak ketinggalan membuat mesin-mesin pencetak uang untuk mempertahankan eksistensinya. Sehingga bukan menjadi barang tabu lagi kalau orang bicara politik sama dengan membicarakan berapa uang yang diberikan, dari siapa dan untuk apa. Apapun istilah yang mereka pakai, entah itu money politic, mahar politic ataupun sedekah politik itulah cara-cara mesin politik mencetak uang.

Begitu tragisnya politik berbayar itu dalam sistem demokrasi politik kita, sehingga orang-orang yang dipandang memiliki kapabilitas atau kompetensi malah tersingkir, sementara yang berduit walaupun bodoh bisa mendpat tempat. Begitu busuknya politik berbayar itu, yang bukan saja mencederai demokrasi politik kita, tetapi juga bagaikan pelacur memeras orang-orang berhutang duit pinjaman untuk sebuah kekuasaan. Ironis sekali politik kita ini yang secara sadar melakukan penyesatan sampai kepada masyarakat bawah (grassroot). Sehingga oleh masyarakat pun telah terjadi erosi mental yang semuanya mengarah pada duit semata. Kalimat-kalimat seperti ini “berjuang” yang artinya beras, baju dan uang, serangan fajar ditambah serang dhuha itu semuanya mengarah pada UUD (Ujung-Ujungnya Duit)

Politik berbayar telah menjadi hantu dan setan politik, dan meraka sedang bergentayangan dimana-mana mencari mangsanya. Karena itu tidak salah rajanya setan yang bernama iblis pernah minta pensiun dini pada Tuhan dan minta dibelenggu sepanjang zaman karena takut tergoda oleh manusia yang berperilaku melampaui setan / iblis tempo dulu.

Adalah benar, Rasul SAW pernah menyatakan sebuah statemennya melalui hadist “Ta isya a’bd al dinar wadirham”, “celakalah hamba-hamba dinar dan dirham”. Statement dalam hadist bukannya tanpa alasan melainkan realitas politik kita ini telah menjadi salah satu alasan yang tidak terbantahkan atas kebenaran hadist tersebut. Persoalannya adalah : apakah kita juga mau menjadi manusia-manusia yang tergolong celaka dengan permainan politik yang berbayar itu? Sebagai manusia masih waras tentunya tidak akan menceburkan dirinya dalam kecelakaan tersebut, kecuali ingin kembali menjadi orang yang selamat. Hanya saja libido politik atau syahwat politik yang tidak terkendali saja membuat orang dengan sadar memilih jalan politik sesat yang pada akhirnya ikut menyesatkan sesama.

Kita merasa prihatin bahkan sangat jengkel dengan politik berbayar itu, sehingga banyak orang yang merasa mengeluarkan dana besar untuk membeli suara dalam perebutan kekuasaan tapi gagal. Ada yang sampai masuk rumah sakit jiwa, adapula yang setengah telanjang berjalan keliling alun-alun dan ada juga yang membunuh diri karena takut dengan hutang untuk biaya politiknya. Dalam politik berbayar, kita sepertinya telah terperangkap dalam lingkaran politik setan yang menghalalkan segala cara. Dan lebih ironisnya lagi adalah kita tidak pernah kapok dalam permainan tersebut, bahkan menjadi-jadi. Sehingga muncul pertanyaan bahwa di zaman seperti ini masih banyak manusia yang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk masuk neraka dunia dan akhirat. Terserah kita yang menjawab, tetapi yang pasti adalah sistem politik yang berbayar di negeri ini telah banyak mendaftarkan para pendukungnya untuk ke neraka ketimbang ke surga. Pertanyaan berikut adalah sampai kapan politik berbayar ini berakhir? Jawabnya adalah kapan-kapan terserah pada kemauan pemegang kekuasaan. Kalau mereka mau, di Indonesia ini tidak ada yang sulit, tetapi menjadi sulit kalau pemangku kekuasaan tidak mau melakukan revolusi politik tersebut. Akhirnya kita melanggengkan politik sesat sampai pada anak cucu kita yang seharusnya diselamatkan dari politik busuk tersebut.

Bukan rahasia lagi bahwa Indonesia ini negara yang paling mudah diatur, tidak sulit walaupun dengan menjual harga diri negara. Persoalannya tinggal pada pemangku kekuasaan yang kita harapkan dalam rangka menjaga martabat bangsa dan kepribadian kita sebagai orang yang beragama? Jika tidak, pertanyaan kita, ada apa? Mungkin ada udang dibalik batu, atau ada uang dibalik kursi. Yang bisa menjawan adalah mereka yang merasakan tetapi yang pasti adalah politik berbayar itu harus diberantas oleh penguasa yang bersih. Tanpa itu, kita sulit bahkan nyaris tidak pernah menemukan sistem perpolitikan kita yang sehat. Semoga kita bisa merubah.

 

Artikel

No Comments to “POLITIK BERBAYAR ?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*