Home » Artikel » MISSPERSEPTION

MISSPERSEPTION

images (2)Missperseption artinya salah menerima atau salah persepsi. Ini merupakan salah satu diantara kebiasaan manusia yang sering kita temukan dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Kebiasaan ini sangat manusiawi karena manusia merupakan makhluk tempatnya salah dan lupa. Menjadi tidak manusiawi adalah merekayasa mispersepsi ini menjadi su’al-dzan alias buruk sangka. Karena pada porsi buruk sangka ini seseorang bisa melakukan apa saja, mulai fitnah, qhibah, adu domba, mencari-cari kesalahan dan menjelekkan atau menghina sesama. Sedangkan pada mispersepsi itu hanya salah menerima atau salah faham, dan itu mudah dikembalikan pada proses awal seperti semula. Disini tidak ada saling menjegal, menjatuhkan, menjelekkan sesama karena salah menerima . Atau dengan pengertian lain mispersepsi itu adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada manusia dan itu tidak mengenal usia dan status sosial yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.

Mispersepsi bisa terjadi pada segala hal, mulai ritual sampai pada persoalan sosial, individual sampai kolektif. Tugas kita adalah bagaimana mengurangi ini dengan tidak tergesa-gesa atau terlampau dini memberi komentar atas pendengaran dan penglihatan kita terhadap sesuatu masalah yang sedang dialami seseorang. Menghilangkan mispersepsi adalah tidak mungkin, karena selain kita berbeda kemampuan, juga kita tidak mungkin memahami keberadaan seseorang secara utuh. Karena itu sebaiknya kita membudayakan sifat hati-hati membuat komentar atau pernyataan kepada sesama sebelum mengetahui duduk persoalan sebenarnya secara utuh . Disinilah sebabnya mengapa Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya “Qul khairan aw liyasmut” katakanlah yang baik atau diam” Sungguh sangat mulia petunjuk yang tertera dalam hadist tersebut. Pesan moral yang terkandung dalam hadist tersebut mengandung makna etika pergaulan yang luar biasa untuk menjaga hubungan (silaturahim) diantara sesama kita dengan menampil dua perilaku mulia, yaitu berkata yang baik atau diam. Perkataan yang baik tentunya membuat orang simpati dan empati pada kita dalam pergaulan. Sementara diam untuk mengatakan sesuatu yang kurang berkenan mengisyaratkan persahabatan sejati diantara kita dikala suka dan duka. Kalaupun kita harus berkata untuk menyelamatkan persahabatan tersebut, maka berilah taushiyah dengan cara-cara bijak/santun supaya ada maknanya buatnya. Dengan demikian tidak terjadi lagi misspersepsi diantara sesama kita, Karena ada pilihan cerdas dalam persahabatan itu. Berkata yang baik, atau diam bersama taushiyah santun adalah pilihan cerdas dalam pergaulan yang seharusnya menjadi kebiasaan kita. Karena disitulah terdapat ikatan jiwa antara sesama kita dalam merampungkan tugas dan kewajiban bersama untuk kemaslahatan umat. Ini berarti hidup kita telah menjadi satu perjalanan yang bermakna bagi sesama untuk kepentingan bersama pula. Dan dengan demikian pengaruh faham individualisme yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi terkikis, dan pada gilirannya akan membuat kesalehan sosial pada sesama.

Untuk hal tersebut maka sangat diperlukan sikap satria mengubah mispersepsi tersebut menjadi baik sangka (husn al-dzan) kepada sesama. Karena bagaimana pun juga mispersepsi kita pada orang lain itu tidak bisa menjadi ukuran standart bahwa orang tersebut sama seperti apa yang kita persepsikan itu. Boleh jadi keberadaan orang tersebut menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat pada sesama baik dalam arti kwantitas maupun kwalitas, demikian pula kita yang suka misspersepsi itu bukan mustahil lebih buruk dari padanya.

Persoalan kita adalah bagaimana meluruskan mispersepsi pada orang tersebut yang kita jadikan sebagai pelengkap penderita itu. Maka agama mengajarkan kita untuk mau meminta maaf atas mispersepsi kita itu, dan kepada orang yang menjadi sasaran mispersepsi kita itu juga diharapkan memberi maaf. Disinilah kebiasaan meminta maaf dan memberi maaf harus menjadi bagian yang terintregrasi dalam kepribadian kita. Tanpa itu, maka sepanjang perjalanan hidup kita lebih memperbanyak lawan ketimbang kawan. Dan bila hal itu terjadi maka kebahagiaan hidup yang kita dambakan akan terancam adanya. Jadi mespersepsi itu ,manusiawi, tapi lebih manusiawi lagi bila disertakan sikap saling meminta dan memberi maaf. Sehingga merasa betah, apalagi sedikit bangga dengan mispersepsi itu sesungguhnya sedang mempertingi tempat jatuh kita sendiri. say to no missperseption, may be !

Artikel

No Comments to “MISSPERSEPTION”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*