Home » Artikel » POLITIK BELAH BAMBU

POLITIK BELAH BAMBU

Pohon-kaktus-dan-BambuAroma perpolitikan kita sering terasa berbau amis menyengat, karena terlepas dari kejujuran dan keadilan dalam berpolitik. Satu diantaranya adalah “politik belah bambu”, yaitu sama-sama berbuat salah, tetapi satu diangkat/dipuji sedang satunya diinjak/dihinakan. Itulah tontonan sehari-hari dalam percaturan politik yang terkadang memuakkan kita. Padahal kalau saja jujur dan adil dalam berpolitik, maka alangkah mulianya model politik ini yang pada capaiannya adalah untuk kebaikan publik.

Memang politik karena kepentingan personal inilah mendorong libido politisi untuk melakukan politik belah bambu. Istilah-istilah seperti menjegal, menjebak, menohok kawan seiring, bahkan pembunuhan karakter (caracter asasination) sepertinya bukan barang tabu bagi politisi. Para politisi malah menganggap penggunaan penggunaan istilah-istilah tersebut diatas untuk mencapai tujuan mereka, kendatipun itu suatu kedzaliman. Sehingga kelaziman sebagai pribadi yang beragama menjadi terserabut dalam budaya pergaulan publik. Pada saat seperti itulah orang mengatakan bahwa politik itu kotor dan menjijikkan, walaupun pernyataan ini tidak semuanya benar, tetapi paling tidak ada benarnya juga sebahagiannya.

Berpolitik seperti itu sesungguhnya hanya mempertinggi tempat jatuh, atau menunggu datang masa penderitaan karena kanker politik yang menggerogoti tubuh politisi. Dikatakan demikian karena bagaimanapun juga orang dirugikan atau didzalimi kalaupun tidak mampu membalas, sekurang-kurangnya menjerit dan berdoa. Inilah yang paling membahayakan, karena doanya orang-orang teraniaya itu pasti terkabul. Begitulah sabda Rasul: “Al-dua’ul mazlum mustajabah” (doanya orang teraniaya itu terkabul). Hadist ini kalau disadari oleh para politisi tentunya tidak akan berani bermain politik model belah bambu. Tetapi persoalannya adalah politisi pada umumnya menggunakan logika politik primitif, yaitu mencapai tujuan menghalalkan segala cara. Bukan logika politik agama (siyasah syari’yyah) yaitu berusaha meraih kekuasaan secara legal untuk kebaikan masyarakat (li al maslahat al a’m). Oleh karenanya permainan politik tersebut hanyalah memperburuk keadaan bukan melepaskan penderitaan publik dan menggantinya dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Sehingga dapatlah dimengerti mengapa tingkat partisipasi masyarakat terhadap pesta demokrasi politik mulai memudar.

Jadi politik belah bambu dengan segala kroni-kroninya itu sesungguhnya memelihara kanker politik untuk politisi dan membunuh masyarakat secara perlahan tapi pasti. Itulah sebabnya Allah SWT memerintahkan pada manusia untuk menolong dan berbuat kebajikan terhadap sesama dan melarang manusia untuk perbuatan-perbuatan buruk (destruktif). Perhatikan firman Allah: “…….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesunggunya Allah amat berat sisksa-Nya” (QS. Al-Maidah : 2). Politisi yang beragama tentunya tidak melakukan politik belah bambu, apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Artinya, praktek politik belah bambu itu hanya dilakukan oleh politisi yang tidak beragama saja. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, kebanyakan diantara politisi yang beragam lah praktek politik belah bambu semakin marak dalam demokrasi perpolitikan kita. Pertanyaannya ialah siapa mereka itu? (Who is them?), jawabnya mereka itu adalah orang-orang yang sedang mabuk politik lantaran setan menjadi penasehat politik mereka.

Artikel

No Comments to “POLITIK BELAH BAMBU”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*