Home » Artikel » PARADOKS

PARADOKS

imagesKata Paradoks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online didefenisikan sebagai “pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran” (bersifat paradoks). Memahami pengertian istilah ini, maka dapatlah disimpulkan bahwa perubahan atau pergerakan yang terjadi dalam kehidupan ini sesungguhnya bermuatan paradoks. Paradoks seperti ini banyak ditemukan dalam sisi-sisi kehidupan kita, dari persoalan kecil sampai persoalan-persoalan besar. Mulai dari persoalan ibadah sampai pada persoalan muamalat dunyawiyat. Contoh sederhana: sholat boleh dilanggar, atau sholat itu nomor dua. Sepintas orang memahami pernyataan ini seperti bertentangan dengan pendapat umum tentang betapa pentingnya sholat dan tidak boleh dianggap masalah remeh. Tetapi kenyataannya memang benar adanya. Yaitu sholat itu boleh di Langgar/musholla, dan sholat itu nomor dua dalam rukun islam sesudah Syahadat. Contoh lain misalnya: ketika makanan terhidang di meja makan ada komentar, kalau ini banyak kolesterol ini bisa menimbulkan asam urat, ini bisa menjadi gangguan lambung dan lain sebagainya. Lalu yang lain berseloroh, makan saja karena kolesterol, asam urat, gangguan lambung dan lain-lain itu tidak ada di meja makan, adanya itu hanya di Lab (Laboratorium).

Kalimat seloroh tersebut bisa bersifat paradoks, karena setelah seseorang memeriksakan penyakitnya di Lab, hasilnya bahwa yang bersangkutan mempunyai kolesterol, asam urat, gangguan lambung dan lain-lain. Dokter mengatakan bahwa penyakit ini timbul karena pola makan yang tidak terukur dan tidak teratur. Dalam demokrasi misalnya, mempersoalkan orang yang tidak memilih lantas di cap sebagai golput, ini juga terjadi paradoks, karena orang yang dicap golput itu sesungguhnya mereka memilih untuk tidak memilih. Begitulah seterusnya kita menemukan paradoks-paradoks dalam kehidupan ini.

Menjadi persoalan serius adalah bagaimana memahami paradoks-paradoks secara benar serta jauh dari pemikiran-pemikiran sesat, yaitu menuduh orang menjadi kafir, bodoh, anti demokrasi dan lain-lain sebagainya. Boleh jadi orang yang dituduh atau dituding itu jauh lebih baik daripada yang menuduh/menuding. Karenanya keberadaan kita jangan seperti menepuk air didulang kembali percik muka, sendiri atau maling teriak maling, menuduh orang lain maling, padahal dia sendiri yang maling.

Disinilah arti kewaspadaan diri menjadi sangat penting agar tidak menyalahkan orang benar atau mendzalimi orang yang baik. Oleh karenanya melihat paradoks itu jangan hanya tekstual saja, tetapi harus melihat kontekstualnya. Sehingga paduan antara keduanya bisa memberikan pemahaman yang utuh untuk menghindari penyakit sok tau dan hobi menyalahkan orang. Sebagai orang beragama/beriman tentunya kita harus menjaga diri dari penyakit sok tahu dan hobi menyalahkan agar terhindar dari berbagai musibah. Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman jagalah dirimu, tiadalah orang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah : 105).

Artikel

No Comments to “PARADOKS”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*