Home » Artikel » USTADZ, JUGA DUKUN ?

USTADZ, JUGA DUKUN ?

images (15)Kata Ustadz dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “Guru” (yang diguguh dan ditiru). Di Mesir kata Ustadz menjadi panggilan seorang Profesor. Jadi kata Ustadz itu mulia, dan menjadi mulia pula orang-orang yang dipanggil Ustadz. Masyarakat pada umumnya menghargai Ustadz itu lebih dari gelar-gelar selainnya. Karena pada masyarakat tradisional, maupun modern ustadz itu sama dengan Kyai. Masyarakat memberi penghormatan lebih karena para Ustadz/Kyai menyandang predikat sebagai pemimpin spiritual. Dengan tugas mulia sebagai penyuluh umat ke jalan yang benar, tentu nama Ustadz memiliki kualifikasi tersendiri dalam stratifikasi sosial. Karenanya masyarakatpun memandang para Ustadz itu sebagai dokter spiritual yang bisa menyembuhkan penyakit rohani. Dari sinilah mereka berbondong-bondong mencari penyembuhan alternatif, selain ke dokter, dukun juga para ustadz. Maksud mereka ke Ustadz itu lebih baik, yaitu mohon agar didoakan dan dibekali sejumlah bacaan doa dan dzikir supaya bisa memperoleh kesembuhan. Awalnya mereka konsultasi pada para Ustadz, dan meninggalkan amplop dan angpao yang lain. Ustadz mulai tergiur dengan pemberian itu, lantas mulai merekayasa dan meyakinkan para pelanggan dengan sejumlah dalil dan sejumlah cerita sukses orang yang pernah sakit. Uang bagi mereka tidak menjadi masalah asalkan keluarga mereka bisa sembuh. Disinilah para Ustadz dipandang bisa menyembuhkan penyakit rohani sekaligus penyakit fisik dengan mendapatkan sejumlah angpao.

Ustadz itu juga manusia biasa sebagaimana dengan yang lain, maka tergiur dengan angpao itu sebenarnya lumrah. Yang menjadi tidak lazim adalah melakukan praktek perdukunan dengan kemasan ustadz, lalu menargetkan sejumlah dinar yang harus ditebus oleh pelanggan (pasien). Disebut tidak lazim karena praktek perdukunan tersebut adalah ajaran syaitan yang sesat dan menarik Ustadz menjadi orang-orang sesat pula. Tidak hanya itu saja, pasien dan para keluarga mereka terbawa menjadi orang sesat pula. Disini Ustadz telah menjadi biang kesesatan dan menyesatkan umat, sebagaimana yang telah diperlihatkan segelintir para ustadz itu.

Soal dukun dan praktek perdukunan dalam Islam termasuk perkara yang menyesatkan karena di dalam satu hadist Rasul pernah bersabda : “Barang siapa yang mendatangi para dukun, lalu bertanya tentang sesuatu (nasib) dan dia membenarkannya maka selama 40 hari shalatnya tidak diterima. “Bahkan sebagian penjelas hadits tersebut mengatakan: apabila dia mati sebagai orang-orang fasik, alias amal shalihnya menjadi sia-sia.

Masyarakat kita dizaman sekarang kebanyakan diantara mereka suka percaya pada dukun daripada berobat ke dokter. Padahal pekerjaannya para dukun itu suka meramal dan berspekulasi dalam pengobatan dengan meminta bantua jin dan setan. Sementara para dokter itu lebih valid berdasarkan diagnosa dan pengobatan yang terukur sesuai dengan teori dan praktek dalam dunia kedokteran. Hanya saja banyak orang secara teologis telah melakukan penyimpangan. Yaitu menganggap dokter sebagai penyembuh segala penyakit, padahal tidak demikian. Para dokter dan obat itu hanya salah satu perantara untuk mendapatkan kesembuhan yang itu datrangnya dari Yang Maha Kuasa. Ini sesuai dengan firman Allah “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan” (QS. As-Syua’ra : 80).

Penyimpangan teologis tersebut diatas membawa konsekuensi logis bahwa dokter dan obat adalah penyembuhannya. Hal yang demikian bisa jadi membuka peluang syirik melalui pintu penyimpangan teologis tersebut, sehingga bukan mustahil amal shaleh para pasien sia-sia belaka. Dampak lainnya adalah juga eksodus kepada para Ustadz yang dianggap lebih dekat dengan Tuhan sehingga boleh jadi ustadz lah dipandang sebagai penyembuh. Jadi dokter dan ustadz yang juga dukun itu dianggap sederajat dengan Tuhan dalam pandangan pasien bersama keluarganya. Karenanya pata ustadz yang dukun itu leluasa menipu para pasien dengan dalil-dalil agama yang dipaksakan untuk menyakinkan pasien mereka. Padahal prakteknya dengan mantra-mantra dan jampi-jampi serta sejumlah persyaratan khusus sesuai dengan pesannya jin para ustadz itu. Ustadz yang dukun ini tidak peduli dengan prakteknya yang menyesatkan itu yang penting bisa mendapat uang banyak dari para pasien. Mereka para ustadz yang dukun itu lupa dengan dalil-dalil Al-Qur’an tentang pertanggungjawaban dihadapan Allah. Mungkin Ustadz yang dukun itu juga mempunyai dalil atau perkiraan sendiri, jangan-jangan para ustadz yang dukun itu diminta menjadi dukun pada para pasien di kampung akhirat itu sesungguhnya perbuatan konyol. Maka sadarlah wahai para ustadz yang dukun itu, dan segeralah kembali ke jalan yang benar. Semoga !

 

Artikel

No Comments to “USTADZ, JUGA DUKUN ?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*