Home » Artikel » MENANTI KEADILAN

MENANTI KEADILAN

keadilanSemua manusia boleh berbicara, dan bertindak apa saja, tetapi itu semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga mempertaruhkan hidup diatas kebebasan tanpa batas, sesungguhnya itu merupakan  satu jalan memperberat  tanggung jawab. Karena koridor yang  telah ditetapi  untuk mengukur bicara, dan tingkah laku yang sudah terabaikan. Maka konsekuensi logis dari itu semuanya adalah  menambah beban penderitaan  dalam mempertanggungjawabkannya.

Memang memilih yang baik (hasanah) dari yang buruk (sayyiat), dari yang benar (haq) dengan salah (bathil) itu bukan merupakan  persoalan yang mudah seperti membalik telapak tangan. Perlu waktu proses dan hasil yang  menyita banyak energi  baik material maupun spiritual,  yang ini terkadang tidak dipahami  oleh kebanyakan orang. Sehingga yang  datang adalah hujatan, caci maki, penghinaan dan fitnah atas perilaku seseorang yang  belum tentu  bersalah. Sehingga dalam perspektif hukum, lebih baik membebaskan seribu orang yang  bersalah  daripada menghukum satu orang yang   tidak bersalah, artinya jangan pernah  menimpahkan  sangsi pada orang yang tak bersalah, tetapi kalau memaafkan orang yang bersalah itu  lebih baik. Persoalan kemudian adalah munculnya anggapan bahwa seakan-akan  publik mentolerir kejahatan  yang dalam banyak hal sangat berbahaya. Sebenarnya anggapan publik seperti itu  bisa dipahami karena ingin memproteksi  kemaslahatan  bersama. Hanya saja dianggap ini berlebihan  kalau hukuman yang ditimpahkan  sesorang  tidak sebanding dengan tingkat  kejahatan yang dilakukan . Seorang nenek  yang tua renta  mencuri coklat di ganjar dengan hukuman kurungan enam bulan sementara koruptor kelas kakap  hanya beberapa tahun saja dan kemudian dipotong segala jenis pengampunan . Itu  memang tidak adil, alias dzalim, yang seharusnya  diberantas  dan diperangi oleh kita semua.

Bahwa si nenek tua itu mempertaruhkan  hidupnya untuk menyambung hidup juga bisa  dimaklumi karena keadaan yang memaksanya. Jadi kondisi ini seharusnya menjadi   pertimbangan untuk memberikan fonis hukuman yang seadil-adilnya pada pencari keadilan  seperti  nenek tersebut. Tetapi yang datang  kemudian adalah  kedzaliman  dan melampaui  batas perikemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah sebabnya manusia diberi akal dan hati nurani bersama agama untuk  memikirkan itu biar tidak mendzalimi orang.

Rupanya pertaruhan hidup mencari keadilan tidak begitu bagus menjadi cita-cita bersama. Yang ada ialah siapa yang memeras siapa, siapa yang mendzalimi siapa dan siapa yang menguntungkan siapa dengan cara menabrak norma dan nilai- nilai sekalipun. Sehingga banyak orang juga mengeluhkan  bahwa pertaruhan hidup mencari keadilan sungguh  merupakan ide yang selalu mengawang di langit, alias tidak banyak yang membumi. Dan bisa membumi tetapi sangat bergantung dengan kepentingan siapa memberi apa pada siapa yang sesungguhnya itu  merupakan kesesatan sesudah mendapat petunjuk . Jadi mempertaruhkan  hidup untuk mendapatkan keadilan itu juga  masih merupakan persoalan besar dalam kehidupan  publik yang sampai  hari ini masih belum tuntas. Terkesan bahwa keadilan itu sesuatu yang mahal harga dan sulit sekali memperolehnya kecuali keadilan semu/palsu bagi mereka yang bererduit dan berkuasa. Tetapi satu yang jelas adalah di hadapan Yang Maha Kuasa berlaku keadilan sejati tanpa pandang bulu  dan  pilih kasih. Disaat itu maka berduit dan berkuasa tidak bisa menolong diri  mereka kecuali siap menerima resiko kehidupannya sewaktu di dunia. Karenanya  para pemegang kekuasaan janganlah menipu Allah di dunia ini, nanti akan diadzab-Nya di hari akhir. Jangan membela yang dzalim dan menghukum yang tidak bersalah  nanti  juga  menjadi  orang-orang dzalim. Yang memperoleh hukuman dari-Nya. Perhatikan firman Allah : “Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang   yang  selalu menegakkan / kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong  kamu untuk  berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah   kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui  apa yang akamu kerjakan” (QS. Al – Maidah : 8). Semoga dengan petunjuk ayat tersebut kita bisa berbuat adil terhadap sesama.

 

Artikel

No Comments to “MENANTI KEADILAN”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*