Home » Artikel » MENGHELA NAFAS PANJANG

MENGHELA NAFAS PANJANG

30 January 2014

unduhan (1)Hidup ini sesungguhnya berjodohan dengan problem. Berbagai peristiwa maupun kasus di dalamnya ada masalah. Ada yang bisa terselesaikan dengan baik, ada pula yang menyisahkan masalah juga. Masalah atau problem tersebut boleh jadi berdampak ganda, positif maupun negatif tergantung kita meresponnya. Berfikir positif (positive thinking) adalah cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Sementara itu berfikir negatif (negative thinking) mengandung potensi menambah masalah. Manusia mempunyai potensi untuk berfikir positif dan negatif, dan keduanya saling menaklukkan. Kita berfikir positif bisa menaklukkan berfikir negatif, maka semua problem terasa ringan bahkan bisa memberi ketenangan. Apabila berfikir negatif menundukkan berfikir positif, maka sisi putih di problem menjadi sirna sementara sisi gelap mewarnai dan menguasai kehidupan. Pada saat itu problem yang sederhana atau ringan bisa menjadi rumit dan berat. Maka jalan penyelesaiannya pun menjadi lebih sulit bahkan bisa menimbulkan masalah lanjutan yang lebih gawat lagi. Dalam mengahadapi persoalan ini, dibutuhkan manusia untuk tahap yang paling pemula adalah “menghela nafas panjang”, yaitu berusaha untuk mengakui keberadaan problem itu sebagai satu tantangan sekaligus peluang. Tantangan memerlukan energi positif untuk menjawabnya dan peluang memerlukan perilaku positif dalam pemanfaatannya. Jika hal-hal tersebut bisa menyatu pada diri seseorang, maka yang ada hanyalah “peluang bukan masalah”. Sebab, selain proses penyelesaian tertata baik, juga ada kemampuan melihat sisi terang jauh lebih penting sebagai langkah awal memulai satu perbuatan baik menuju multi kebaikan. Disinilah arti menghela nafas panjang ketika bertemu dengan problem.

Persoalan yang paling pelik adalah menghela nafas panjang sebagai sinyal dimulainya timbul rasa putus asa dalam menghadapi problem itu. Jika itu yang terjadi maka harus difahami bahwa hal tersebut dilarang dalam agama. Perhatikan firman Allah : “Hai anak-anakku, pergilah kamu maka carilah berita tentang Yusuf dan Saudara-saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah, melainkan kaum kafir” (QS. Yusuf : 87). Ayat tersebut tegas melarang putus asa, bahkan putus asa itu adalah perilaku orang-orang kafir. Jika kita yang beragama sudah tentu harus menghindari putus asa tersebut. Artinya pribadi yang beragama, apapun agamanya optimisme untuk hidup dengan segala konsekuensinya harus menjadi bagian yang dinikmati. Oleh karenanya, menghela nafas panjang untuk membangun kesadaran dan optimisme itu juga harus menjadi bagian dan mutlak menjadi kebutuhan hidup kita. Dengan demikian maka masalah yang sulit bisa menjadi mudah, berat menjadi ringan, besar menjadi kecil. Dan tugas kita adalah bagaimana memudahkan masalah yang sulit, meringankan masalah berat dan memperkecil persoalan besar dalam arti untuk menemukan solusinya, kendatipun tidak memandang remeh dari seluruh problem dalam kehidupan. Disinilah perlunya menghela nafas panjang dalam merespon problem kehidupan kita. Sehingga menurut sebagian ahli Ilmu Jiwa Dalam (Dept Psichology) bahwa dengan menghela nafas panjang itu sesungguhnya kita telah membuang sebagian besar energi negatif dalam diri kita. Sehingga ruang energi positif dapat menguasai diri kita untuk menyelesaikan problem kehidupan ini secara positif pula. Semoga kita bisa.

Artikel

No Comments to “MENGHELA NAFAS PANJANG”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*