Home » Artikel » KEKUASAAN, OH PENGUASA

KEKUASAAN, OH PENGUASA

30 January 2014

shirt9aSudah merupakan suratan takdir, bahwa manusia itu makhluk yang paling sempurna. Selain dikaruniai akal dan agama, juga diberi kekuasaan sebagai “Khalifah” atau juga “Sultan”. Kekuasaan tersebut memang sengaja diberikan pada manusia dengan maksud-maksud tertentu. Diantaranya adalah untuk menegakkan kemaslahatan ummat (ri’ayat al-mashalih al-ummah). Atau dengan pengertian lain dengan kekuasaan itu manusia secara individu maupun sosial saling memberikan perlindungan, kemaslahatan terhadap sesama mereka termasuk lingkungan dan makhluk selainnya. Betapa mulia misi kekuasaan pada manusia, sehingga proses realisasi misi kekuasaan tersebut juga termasuk hal-hal yang mulia pula. Artinya, dengan kekuasaan mereka untuk mencapai kebaikan dan bersama kekuasaan pula manusia dapat memberikan perlindungan terhadap sesama dan lingkungan dari bahaya-bahaya yang merusak mereka. Jadi esensi dari kekuasaan itu adalah dengannya (kekuasaan) seseorang dapat berbuat pada sesama dalam arti yang seluas-luasnya. Oleh karena menyalah gunakan kekuasaan (abuse of power) yang tidak sesuai dengan esensinya, maka itu adalah suatu kedzaliman. Dan kedzaliman tersebut pasti menyeret pada keadaan yang membuatnya merasakan akibat kedzaliman itu. Disinilah sebabnya mengapa kekuasaan itu tidak boleh disalah gunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan esensi dari kekuasaan itu sendiri. Sebagai khalifah atau sultan seharusnya berperan sebagai sosok figur pahlawan kebaikan bagi masyarakat. Sehingga dihormati, disegani bahkan disayang dan dikenang sepanjang masa. Khalifah atau sultan seperti ini adalah pemimpin, bukan penguasa, sehingga kehadirannya dirindukan, kepergiannya ditangisi dan didoakan. Dan sosok pemimpin seperti ini boleh dibilang termasuk makhluk langka alias sangat sedikit sekali. Kebanyakan mereka adalah penguasa dan raja yang dzalim. Kerja mereka hanya menambah penderitaan rakyat. Mereka membentuk dinasti dalam kekuasaan untuk mencuri harta rakyat dalam kas negara dengan berbagai dalil pembenar.

Oh penguasa, jangan menjual rakyat untuk mengisi kantong pribadi dan menghidupi anak cucu. Sebab perbuatan tersebut sangat dibenci dan dikutuk oleh rakyat dan Yang Maha Kuasa. Oh penguasa, jangan rakus memakan harta benda yang bukan haknya, dan kalau sudah terlanjur kembalikan lagi kepada rakyat. Oh penguasa, proyek pembangunan untuk kepentingan masyarakat jangan dikorup dan jangan sampai pula dibagi-bagi pada sesama penguasa. Sebab cara tersebut nantinya merugikan rakyat selaku pengguna sehingga dapat dikatakan sebagai perbuatan dzalim. Oh penguasa, tidak perlu menjilat dan mencari muka pada pemilik modal yang disebut dengan kaum kapitalis. Karena hal tersebut akan merendahkan martabat pribadi dan membuat bangsa tidak dihargai bahkan boleh jadi bangsa yang tidak bermartabat.

Oh penguasa, jangan melampaui batas dalam membuat kebijakan publik, karena akan menambah penderitaan rakyat yang sekarang sudah jatuh dan ditimpa tangga. Oh penguasa, boleh menikmati fasilitas mewah karena uang rakyat asal itu menjadi haknya, karena sampai memakan hak rakyat maka semutpun marah apalagi rakyat. Oh penguasa, ketika dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan nama Tuhan (Demi Allah) maka, ingat bahwa sesudah berkuasa sampai pensiun hingga mati semuanya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Yang Maha Kuasa (baca QS. At-Takatsur : 8). Dan dalam pada itu mulut terkunci rapat, tangan akan berbicara dan kaki menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan (QS. Yasin : 65). Oh penguasa, sebetulnya rakyat sudah muak melihat gaya kepemimpinanmu, karena hanya membuat pencitraan di depan publik. Omonganmu dengan perbuatanmu saling bertolak belakang sehingga rakyat menyangka engkau telah gila atau sedang menuju pada gila beneran. Oh penguasa, jangan begitu karena yang engkau pimpin bukan rakyat dari benua terasing tapi mereka dari negerimu sendiri. Oh penguasa, engkau tega menikmati kekayaanmu, sedang rakyatmu sedang berada di kolom jembatan, tunawisma tuna aksara, bahkan juga tuna moral. Ini semua adalah tanggungjawabmu, karena itu bertaubatlah dan kembali kepada jalan yang benar. Kami anak negeri ini membutuhkan pemimpin, tidak butuh penguasa. Semoga kelak menjadi pemimpin yang baik. Amin.

Artikel

No Comments to “KEKUASAAN, OH PENGUASA”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*