Home » Artikel » JANGAN MERATAP MASA LALU

JANGAN MERATAP MASA LALU

selamat-tinggal-masa-laluSemua manusia dibawah kolong langit pernah bersalah, kecuali para rasul yang dibimbing wahyu. Meratapi masa lalu berarti mengungkap kembali dan mengenangnya sejarah kelabu kita sendiri. Itu artinya membebani diri dengan persoalan yang sudah terjadi dan pada akhirnya menyiksa diri sendiri, sehingga bukan mustahil akan menganiaya sesama.

Semua manusia mempunyai pola dan warna perjalanan kehidupanya berbeda antara satu dengan yang lain. Kehidupan yang menunjukan tren menaik (up), tidak selamanya bertahan, kecuali juga turun (down). Alhasil perjalanan hidup manusia mengalami huktuasi up and down, pasang dan surut, bersinar dan meredup. Kehidupan ini telah digambarkan diibaratkan sebagai roda pedati terus berputar seperti disebut oleh Allah. Dan masa kejayaan (Kejayaan dan Kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia agar (mereka mendapatkan pelajaran) (QS : Ali Imran 140) Meskipun ayat ini berbicara soal kalah menang dalam peperangan  (perang badar), tetapi kandungan pelajaran dan hikmah untuk kehidupan manusia secara luas. Kita yang hidup dalam masa ”damai” pun mengalami situasi masa perang. Adakalanya mujur, tetapi juga adakalanya buntung, begitulah seterusnya pola hidup yang harus dijalani.

Bagi manusia yang tidak memahami otoritas Yang Maha Kuasa tentunya dia mau menerima pola hidup yang beruntung. Sementara merugi dipandang sebagai hal tidak mengenakkan, bahkan menuding Tuhan tidak adil. Respon seperti ini adalah cermin dari jiwa yang tidak dewasa, atau setidak–tidaknya Syahwat jelek yang tidak terkendali oleh hati nurani. Ini juga karena kurangnya informasi agama atau keringnya keberagamaan kita tanpa ilmu yang memadai. Orang seperti mereka ini sesungguhnya beragama/beribadah setengah-setengah hati, tidak sungguh–sungguh, akibatnya merugi dunia dan akhirat.

Perhatikan fiman Allah: “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah berada ditepi, (tidak dalam keyakinan), maka jika mereka memperoleh kebajikan, tetaplah ia pada keadaan itu, dan jika mereka ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang (kembali kafir lagi). Rugilah ia dunia dan akhirat, yang demikin itu kerugian yng nyata (QS : Al Hajj : 11) Pahami baik–baik isi ayat tersebut, dan janganlah jadi orang yang zalim sesudah mengetahui kebenaran firman Allah ini. Artinya menjadi manusia itu harus gentleman, mau menerima segala kebaikan, juga harus menerima resiko hidup. Karena sikap tersebut mnunjukkan bahwa kita pantas disebut manusia pada sejatinya tidak pernah bebas dari asem / garamnya kehidupan, pahit manisnya capaian hidup.

Oleh karenanya meratap nasib masa lalu berarti membuat kezaliman ganda pada diri sendiri. Yaitu pertama pada masa muncul resiko, dan kedua membuka kembali luka lama dan mengenangnya sebagai bayangan yang menakutkan, menyedihkan bahkan menjengkelkan. Hati dan pikiran dalam bayangan ini tidak pernah bersih dan masuk akal pada setiap ucapan dan perbuatannya. Sehingga boleh jadi orang memandang kita setengah gila, atau mungkin gila beneran? Karena itu maka memutus mata rantai sebuah duka dan menggantinya dengan suka cita itu adalah satu sikap yang perlu dilakukan. Karena dari sinilah timbul optimisme gemilang untuk  menata kembali yang lebih baik dari sebuah perjalanan hidup yang pernah tersandung. Menyesali nasib masa lalu itu manusiawi, tetapi hanya dalam kerangka membangun kesadaran untuk hidup lebih baik. Meratapi masa lau adalah ibarat obat overdosis yang ujung–ujungnya akan mencelakakan diri sendiri juga bisa jadi terhadap sesama.

Karenanya jangan lagi meratapi masa lalu, apa lagi sudah berlalu dan kadaluarsa. Kedepan harus optimisme yang militan untuk memulai hidup baru yang lebih baik dan bermartabat. Katakan pada diri sendiri “untuk apalagi meratapi masa lalu itu”, sedang didepan kita menjanjikan kebahagiaan/kebaikan. Katakan goodbye padanya sembari senyum menatap masa depan optimisme bahwa kita ingin perubahan we want to change. Dan menurut hemat saya kita baru bisa berprinsip seperti itu apabila dalam menjalani hidup ibarat air mengalir, nikmat disyukuri, ujian dinikmati, maka selesai sudahlah ujian hidup itu. Jangan pernah berprinsip seperti kantor Pegadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Itu cermin orang yang tidak bertanggung jawab alias lari dari persoalan hidup dan mencari orang lain sebagai kambing hitamnya. Bagaimana mungkin menyelesaikan masalah tanpa msalah itu? Menggadaikan barang saja sering berkelahi dengan keluarga palagi menebusnya tanpa kemampuan yang cukup, sehingga barang gadaiannya harus dilelang dengan harga yang murah,  dan pemilik barang juga harus menebus kekuranganya, ini semua masalah, yang terpenting adalah tanggung jawab orang pada masalah tersebut. Seperti itulah gambaranya orang hidup, jangan mencari maslah kalaupun itu terjadi, bertanggung jawablah menyelesaikannya. Yang penting kita menyongsong masa depan dengan senyum dan kerja merubah nasib. “Allah tidak merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu berusaha merubahnya (baca QS : Al-Mujaddalah : 11) Kemudian bacalah dan fahami baik-baik Firman Allah pada (QS : Al-Ashr : 1-3). Dan karenanya tak perlu meratapi  lagi masa lalu. “Maju terus pantang mundur membela yang benar”, hindari sikap maju terus pantang mundur membela yang bayar.

Artikel

No Comments to “JANGAN MERATAP MASA LALU”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*