Home » Artikel » EXPERIENCE OR EXPERIMENT?

EXPERIENCE OR EXPERIMENT?

30 January 2014

images (4)Tak tahu tak kenal, tak kenal tak cinta, tak cinta tak sayang. Jika ingin mendapat mutiara asli, maka selamlah sampai kedasar lautan. Kelihatannya berat, banyak rintangan tetapi hasil yang diperoleh sangat memuaskan. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah nasehat orang bijak bestari kepada kita. Nasehat-nasehat tersebut muncul dari sebuah pengalaman atau percobaan. Jadi pengalaman (exsperience) atau percobaan (experiment) menjadi sangat berharga bagi kehidupan kita, tapi bukan sembarang pengalaman dan percobaan. Pengalaman dan percobaan dalam tulisan ini adalah kebaikan yang diperoleh seseorang ketika ia menjalani proses tersebut berikut suka dukanya. Atau kesan nyata yang dirasakan seseorang dalam mencari dan menemukan sesuatu yang baik, bahkan terbaik sesudah menempuh jalan panjang yang melelahkan.

Perjalanan hidup tidak pernah menyediakan sesuatu secara instan, melainkan proses dari input lalu melahirkan hasil (output). Dalam hal seperti ini experience atau experiment sangat menentukan karena didalam experience ada experiment, dan didalam experiment juga ada experience. Sama-sama baju dengan kualitas kain yang sama tetapi hasilnya pasti beda, kualitas jahitan lebuh baik dari orang yang berpengalaman dan pernah mencoba ketimbang belum atau baru memulai. Sama-sama Dosen, mengajar matakuliah yang sama dengan refrensi buku yang sama pula, beda rasanya antara dosen pemula dengan dosen senior. Sama-sama sholat wajib dan sholat sunnah, tapi beda rasanya orang berpengalaman ketimbang baru memulai. Jadi experience or experiment itu membuat orang berbeda terutama pada kualitasnya. Disinilah orang mengatakan the experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Bahkan orang mengatakan sukses yang baik itu adalah belajar dari pengalaman orang yang pernah sukses. Persolannya adalah berapa banyak orang yang mau belajar dengan pengalamannya sendiri maupun pada orang lain? Kalaupun mau belajar, apakah pengalaman belajar itu dijadikan guru (digugu dan ditiru)? Atau hanya sekedar lewat saja? Pertanyaan-pertanyaan ini semua yang harus kita jawab dengan jujur kalau ingin mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Yang jelas, orang tidak pernah bisa mengatakan ia tahu, sebelum ia pernah berpengalaman dan mencoba tahu. Disini belajar dan mencoba untuk tahu menjadi sangat penting untuk membangun diri yang bermartabat. Tanpa itu, maka keberadaan kita seperti kontes robot, dia tahu, lincah bergerak karena hanya menuruti perintah pemegang remot kontrol. Dan manusia yanga menjadi robot dizaman ini terbilang banyak. Mereka telah kehilangan harga diri dan pengaruhnya. Tipe manusia seperti inilah menjadi embrio ABS, Asal Bapak Senang atau nurut kersane panjenengan dan monggo mawon

Kita perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas agar menjadi manusia yang mempunyai prinsip dan harga diri. Yaitu belajar, dan belajar sebagaimana yang di perintahkan Allah pada lima ayat sebagai wahyu yang pertama turun (QS: Al-Alaq: 1-5) Dengan belajar kita memperoleh pengalaman dan menjadi tahu, dan dengan mencoba untuk tahu juga menjadi tahu. Disinilah mahalnya pengalaman dan percobaan merangkai dan merajut apa yang disebut ilmu pengetahuan atau knowledge dan science. Perhatikan pengalaman perjalanan Nabi Musa ketika berguru dengan A’bdan Shaleh yang dikenal sebagai Nabi Khidir, dan pengalaman Nabi Ibrahim mencari Tuhan (baca QS: Al-Kahfi: 60-82) dan (baca QS: Al-Anam: 77-79). Semoga kita semuanya bisa memiliki pengalaman dan ekperimen untuk menemukan kualitas hidup yang lebih baik. Amin.

Artikel

No Comments to “EXPERIENCE OR EXPERIMENT?”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*