Home » Artikel » EWUH PEKEWUH

EWUH PEKEWUH

22 January 2014

images (6)Manusia sering tersandra dengan sifat ewuh pekewuh, yaitu: ingin berkata benar tegas, tapi malu-malu mengatakannya, atau malu mengatakan yang benar pada sesama. Akibatnya, perilaku menyimpang yang dilakukan seseorang sepertinya terus bertambah, kwalitas maupun kwantitasnya. Ketika penyimpangan semakin berat, dan besar maka proses penyelesaiannyapun semakin komplek dan berat pula. Dan dalam rentan waktu yang lama, penyimpangan malah menggurita, artinya semula hanya satu dua orang, malah kemudian terjadi secara berjamaah. Ini artinya sifat ewuh pekewuh ikut membesarkan penyimpangan, atau boleh jadi membiarkan orang untuk mempertinggi tempat jatuh?

Konon ada hadist “Quli al-haq walaukana murran”, katakan yang benar walaupun tersa pahit. Kalau ini benar hadist, maka perintah untuk mengatakan kebenaran itu adalah wajib, Walaupun para pihak merasa terusik kepentingan mereka. Kalau pun bukan hadist, katakanlah itu adalah dalil a’qly yang juga rational mengajarkan kita untuk saling mengingatkan. Bukankah mereka itu saudara kita, kolega kita, apalagi keluarga kita maupun teman-teman sekantor, sepergaulan dan sebagainya. Mereka dan kita sama-sama saling membutuhkan untuk menjadi lebih baik dalam perjalanan hidup kita semuanya. Sehingga peran kebaikan kita menjadi lebih optimal untuk kepentingan bersama.

Berkata benar, jujur harus kita lakukan untuk diri kita dan sesama. Berkata benar tidak perlu disampaikan dengan cara-cara preman, melainkan dengan santun, bijak (wise). Inilah sesungguhnya menjadi suatu pelajaran yang teramat berharga bagi kita semua dalam kerangka saling menolong untuk kebaikan. Karena itu pula didalam Al-Qur’an menggunakan kata “Taushiyah” artinya saling memberi nasehat. Perhatikan firman Allah “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “(QS : Al-ashr : 1-3) Baca dan pahami benar-benar isi ayat tersebut, renungkan dalam-dalam kandungan ayat itu kemudian laksanakan/lakukan sebisa kita dalam urusan tersebut, supaya kita dan mereka tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. Makna dibalik ayat tersebut adalah mewajibkan kita untuk memberi taushiyah terhadap sesama dan melepaskan  diri kita bersama mereka dalam kerugian Subhanallah, Maha Suci Allah, betapa besar perhatianNya terhadap kita selaku hambaNya dimuka bumi ini. Tetapi sering kali manusia lalai, bahkan sengaja lupa dengan peringatan Allah tersebut diatas.

Kita perlu berfikir ulang secara jernih bahwa yang butuh kebahagiaan itu kita, bukan dia (Allah), dan juga butuh selamat dunia akhirat pun kita, bukan Allah. Kebahagiaan, keselamatan dunia, apalagi apalagi akhirat tidak mungkin kita peroleh, kalau kita masih menjadi golongan orang-orang yang merugi. Maka ewuh pekewuh dalam menyampaikan taushiyah itu hendaknya kita rubah dengan berani bertaushiyah dengan baik dan benar secara santun. Insya Allah para pihak yang menerimanya tidak akan menentang, apalagi tersinggung merasa diperbaiki. Disinilah metode penyampaian taushiyah menjadi sangat penting untuk kita, ketimbang materi penyampaiannya. Ada kaidah yang mengatakan: “Attariqatu ahammu min al maddah” metode ini lebih penting dari materi “Jadi persoalan kebenaran itu sesungguhnya pada metode penyampaiannya. Artinya jangan menegakkan kebenaran dengan cara-cara yang salah, tetapi tegakkan kebenaran dengan cara-cara yang  benar (Nasrun al-haq bi al- haq). Dengan demikian, maka siapapun menjadi subyek dan obyek taushiyah akan merasa dihargai yang pada akhirnya saling menghargai untuk kepentingan bersma . Oleh karena itu sifat ewuh pekewuh perlu direnovasi menjadi berani bertaushiyah dengan cara-cara yang lebih baik, santun dan bijak demi untuk kebahagianan bersama. Terlalu berlebihan kalau kita seperti memancing, tanpa mengeruhkan airnya, dapat menangkap ikannya. Yang penting bagi kita dapat menyampaikan kebenaran itu dengan santun kata maupun perbuatan. Adapun mereka tersinggung itu hanya karena persoalan hati yang belum mau menerima petunjuk saja. Yah Berdo’alah, sesudah berbuat, semoga kita dan mereka tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. Karenanya ewuh pekewuh harus pula dimaknai do not say yes, when you to say no, jangan berkata iya, ketika anda hendak mengatakan “tidak”.

Artikel

No Comments to “EWUH PEKEWUH”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*